Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Friday, December 21, 2012
Angels&Airwaves - Stomping the Phantom Brake Pedal (Double EP)
Critter.
Satu-satunya alasan Tom dengan jutaan ide bisnis yang bersliweran diantara foto kucing dan pria bugil di instagram, merilis Double EP berjudul Stomping the Phantom Brake Pedal – judul ini adalah kalimat yang sering dilontarkan Critter semasa hidupnya membangun singgasana kemegahan mimpi dari punggawa AVA, the architect himself -.
Ep pertama, ada lagu baru yang dibuat AVA –lebih tepatnya scoring sih, soalnya namanya The Score Evolved EP- dan LOVE Re-Imagined yang berisi lagu lama yang diremix oleh darah baru, Rubin.
Setelah kecewa berat dengan “Diary” yang dirilis terlebih dahulu, saya memberanikan diri untuk mendengarkan EP ini.
The Score Evolved EP
Dan yak, Reel 1, atau Diary memulai segalanya. Jujur saja, opini saya tidak berubah. Entah apa yang ada dipikiran kalian, tapi kalau tanya saya, ya jelas, menurut saya, ini terdengar seperti David yang sedang tidak tahu mau apa, merekam nada-nada string full elektronik di studio dibantu Matt – yang juga mungkin sedang bosan atau bagaimana- lalu menyuruh Rubin mengisi beat drum, dan Tom – yang mungkin sedang mabuk berat – bernyanyi. Lagu ini memang seolah menyiratkan kekosongan luar biasa, seperti gua hampa. Tidak direkomendasikan kepada yang sedang merasa kehilangan seseorang, ini lagu yang terlalu depresif. Kalian bias melamun dan mencoba terjun dari pesawat luar angkasa karena frustasi. Karena basicnya ini adalah scoring film, yang tugasnya hanya membangun atmosfir, Vocal-nya sendiri baru muncul menjelang akhir lagu, setelah intro super panjang dan hanya bisa dicerna maksudnya kalau sudah dibaca liriknya, karena Tom bernyanyi dengan suara sangat parau. Yang terbaik dari track ini justru video clip-nya, yang ekstra mengharukan karena mengenang sosok Critter. One of the best man that AVA’s ever had.
Reel 5 (New Blood) berputar, dan sebagai b-side yang unreleased dari LOVE part 2, scoring music yang tidak jadi dipakai, maka bunyi-bunyian synth analog digabung dengan sound string yang mulai terasa begitu-begitu saja. Eksperimental standar. Seperti skit yang dipaksakan. Mungkin bagus untuk dipakai merenung sambil buang air mengenai tagihan atau utang menggunung, tapi tidak untuk dicerna atau dijadikan lagu kebangsaan karaoke.
Reel 6 dimulai dengan jantung (atau denyut nadi?) yang berdetak membuka gerbang terakhir EP ini, tidak banyak yang bisa dibahas, kecuali sound yang terdengar kuno dan modern sekaligus. Sekali lagi, jangan banyak berharap dari b-side yang unreleased dari LOVE part 2, karena ya, Reel 1, 5, dan 6 ini karena jelas-jelas scoring music yang tidak jadi dipakai.
LOVE Re-Imagined
Eksperimen Rubin. Perlu diingat, tidak semua yang tidak sesuai selera itu jelek, apalagi, sebuah eksperimen music, yang jelas, bebas.
Nada minor khas Industrial mewarnai track Surrender, dibuat kotor dan kering, jelas akan membuat pecinta AVA modern yang berharap semua terdengar megah dan pop-ish segera mengernyitkan dahi, ini seperti membakar mobil dengan cat siram kualitas berkilau dan menggantinya dengan karat-karat, seperti kiamat, seperti mengganti Bumi yang hangat dengan Pluto yang berisi gas. Tapi buat saya, ini menunjukkan keberanian Rubin merombak zona aman, jelas layak diberi penghargaan, setidaknya patut jadi hits disko bawah tanah di dataran Mars yang penuh bebatuan merah dan karang.
Epic Holiday dirubah jiwanya disini, dengan bebunyian yang terasa lucu dan ganjil, dan lagi-lagi, Rubin mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin remix-nya ear-friendly – ya kecuali kalian mabuk LSD berat – dia malah membuat nya dengan tempo tanggung dan chorus-nya tidak dibuat megah. Seperti menaruh sebuah pidato Delonge pada perangkat synth analog yang ramai-ramai menyerbu telinga. Yang tidak pusing akan segera pusing, yang sudah pusing akan semakin pusing.
Rubin main aman di Young London yang dibuat sedikit lebih gelap, dan disuntikan nuansa gloomy di sisi piano yang mengiringi remix ini, meski sedikit kurang di sisi drum yang kurang megah, namun pengisian interlude gitar dan beberapa melody lain (dengan atmosfir cowboy antariksa), dan yak, seketika menjadi lagu pengantar tidur yang suram dengan suara triangle dan akustik gitar di tengah dan penghujung lagu.
Pernah membayangkan mantan anak murid Reznor mengobrak-abrik Anxiety? Rubin mengubah basic not menjadi minor dan sangat gelap, dan sangat memusingkan dengan tempo yang juga diperlambat, entah minuman atau pil apa yang dia tenggak, hingga disatu sisi, elektronik berkarat bisa menempel begitu hebat di lagu ini, dan mengubah apa yang selama ini jadi trademark AVA. Mungkin tidak cocok di telinga yang berharap remix ini jadi manis dan megah, karena yang diinginkan Rubin adalah suasana dingin, dan gelap. Anxious.
Tidak ada kejutan dari Saturday Love, masih memakai resep yang sama dan sound yang diulang-ulang dari remix-remix lain dari EP ini, - iya, dibuat gelap dan dingin - kecuali interlude yang ditambahkan sebelum Chorus itu lumayan menenangkan, dan menuju akhir lagu track drum yang dibuat penuh seperti memborbardir telinga bertubi-tubi, seperti hujan meteor.
"Stomping the Phantom Brake Pedal" jelas merupakan proyek senang-senang, dibuat tanpa presisi harus laku atau menggebrak pasar, tapi jelas, AVA adalah sebuah media kreatif, yang akan menelurkan apa saja. Sebut itu film hingga, ehm, remix industrial semacam ini. Mungkin tidak bagus, atau tidak sesuai selera, but yes, on a side note, please respect Rubin, dia jelas menunjukan remix miliknya (sangat jauh) lebih berkarakter daripada remix Hallucinations dari Hoppus yang dibuat bagaikan theme song truk es krim.
Pilihan Saya :
Surrender - Patut jadi hits disko bawah tanah di dataran Mars yang penuh bebatuan merah dan karang. Tenggak sedikit lebih banyak sekian milligram dari dosis Anda agar ada efek melayang.
Blink-182 - Dogs Eating Dogs EP
Perlu diingat review ini saya buat hanya untuk kepuasan pribadi, jadi kalau Anda tidak puas, dan ingin mendapatkan kepuasan, silahkan bikin sendiri.
Dimohon tidak terlalu dianggap serius atau bahkan dijadikan bahan skripsi.
Kali ini, review ini (kayaknya) aman dibaca anak kecil, (diusahakan) tidak mengandung kata-kata cabul.
“Dogs Eating Dogs EP” adalah hadiah Natal. Period. Euphoria fans yang menggila melihat secara tiba-tiba trio Tom, Mark dan Travis sudah berkumpul di studio dan berlatih, dan malah menulis lagu buat EP sukar dibayangkan. Mengingat "Neighborhoods" yang (ternyata) lumayan biasa saja, tentu saja ada ekspektasi berlebihan untuk EP kali ini.
When I Was Young memulai akhir tahun yang terasa begitu cepat ini dengan alunan intro string beat elektronik yang temaram, damai dan tentram, lalu seketika ketukan drum rapat muncul dan Tom bernyanyi tentang kegamangan hidup “The more I go on the less I can face this, And those rotten things that live in our shadow” – kecenderungan tema lirik yang ditulis Tom di hampir semua lagu blink-182 era kekinian- dengan tensi seperti masa-masa suram cerminan khas Boxcar Racer.
Kita akan menemukan bahwa chorus catchy (yang dihajar langsung setelah verse) berbunyi “It’s the worst damn day! ” adalah kebalikan dari optimisme dan keberanian yang biasanya Tom dengungkan melalui Angels&Airwaves. Saya hampir lupa kalau ini blink-182 sampai pada saat Mark mengisi senandung sarkasme “Doesn’t hurt that; much..”. (Oh iya, itu dia Mark!, ini blink-182!)
Lagu yang catchy, Ehm, Boxcar Racer-ish? :p
Dangkal ah.
Lalu, pada Disaster, Mark memulai dengan line bass post-punk monoton dan Tom?
Seperti biasa, dia malah asyik bermain-main dengan seperangkat rak peralatan bekas kesayangan milik Greenwood, sebelum mengisi dengan sound gitar khas, ehm AVA.
Lagu ini mirip dengan resep kebanyakan lagu di "Neighborhoods", Travis masih dengan peran terbaiknya saat ini memberi warna dengan isi drum yang mulai tak terbayangkan, sementara peran Mark mulai kelihatan dengan suara berat dan parau – mungkin dia berharap bisa terdengar seperti Darth Vader - dikala Tom menyanyikan, hmmm.. sebuah cerita cinta getir dan gelap?
Saya menebak kita pun akan sering menemukan lagu-lagu seperti ini di album-album berikutnya. Mencampur aduk semua ego.
Mereka bermain aman, tidak keluar dari zona nyaman masing-masing individu.
Masih terasa gelap, bersahaja, sesuka mereka, dan ya, saya rasa, telinga kita semua masih harus beradaptasi.
Ah, saya rindu balada.
Petikan merdu akustik dan lirik picisan mendayu-dayu.
Elektronik menjemukan sejak era AVA dan +44 akan membuat siapa saja yang menjadi fans blink-182 butuh sebuah lagu renyah untuk bersantai di pinggir pantai dengan rasa patah hati yang berceceran bersama pasir, dan Natal ini, Boxing Day seharusnya hadir layaknya Juruselamat di kandang domba.
Uniknya, alih-alih dibuat seperti lagu anak pinggir pantai California, lagu ini seperti dinyanyikan oleh dua cowboy gay yang saling membuka luka sambil bermain gitar di peternakan. Folk Pop. Dibanding lagu dengan gaya yang hampir terdengar seperti When You Fucked Grandpa (The Grandpa Song) ini,
Tom malah menulis lirik seindah “We could reignite, like fireflies, Like an atom bomb at all hours” tanpa beban, lalu dengan elegan, Mark mengingatkan pada momentum yang akan membangunkan kenangan paling menyakitkan terbaik pada chorus yang seharusnya diambil Hallmark untuk tulisan dalam “Christmas Card of The Year”, niscaya laris manis. “I’m empty like the day after Christmas, swept beneath the wave of your goodbye, You left me on the day after Christmas, There’s nothing left to say, and so Goodnight..” ,
Pedih, kekinian, segar, renyah dan mudah ditelan. Syahdu
Intro menjanjikan dan serba menghentak dalam Dogs Eating Dogs akan membawa kita kepada dogma Oh-inikah-blink-182-yang-kita-nantikan-selama-ini-ism,
dan Mark, (yeah Mark),
dengan lantang membawa tempo rapat nan pintar Travis kedalam nostalgia tembak langsung a la +44,
saya suka lirik “We would always starve and devour our closest friends my beautiful friends, paranoia my paranoia” lagu ini tanpa basa-basi membombardir begitu saja.
Lagu ini meracau secara agresif – in a positive way -, dan Mark menulis sebuah kebingungan dan ketidakberdayaan dengan idiom yang diulang-ulang pada chorus “Dogs eating dogs” sebagai kesimpulan, membombardir kita dengan Tom menyapa lewat bridge dengan gaya khas menimpali seolah merasakan apa yang Mark nyanyikan.
Lupakan melody penuh canda sarkasme menggelitik dan teman khayalan di penjara a la I won’t Be Home At Christmas – atau bahkan Fuck A Dog yang amat saya harapkan – Apabila kita bicara tentang lagu yang dirilis mendekati Natal dari blink-182, buat para old school fans, mereka menjadikan lagu ini sebagai amunisinya, dengan presisi sedikit lebih serius –ya sebut saja dewasa - tentunya.
Haha. AVA-ish. Pretty Little Girl sebenarnya tidak salah sama sekali, tapi paling tidak, ini akan mengganggu ekspektasi mereka yang tidak setuju Tom terlalu mengekspos sound modern a la U2 kedalam materi blink-182. Sedikit mirip dengan lick gitar Good Day milik AVA di beberapa part dan nada, namun ya, harus dimaafkan karena mau bagaimana pun juga, ini tetap lagu yang catchy – yang sialnya, nada “I’ve got my eye on you, whatca gonna do?” itu gampang stuck di kepala – dan yang menyenangkan adalah tema yang simple, tidak gelap. Apalagi saat Yelawolf maju mengisi baris demi baris barikade lirik dengan nafas rap yang – meski saya tidak mengerti maksudnya - terasa sebagai pidato panjang dinamis yang dilumuri ritme drum Travis. Tidak luar biasa, tapi blink-182 melakukan hal berbeda lagi, ya tapi ya, meski bukan yang terbaik, it’s still a good and catchy song.
Tidak banyak perubahan dari "Neighborhoods", dan tidak memberi pencerahan berarti bagi mereka yang menunggu sebuah masterpiece dari Tom, Mark, dan Travis.
Ini hanyalah EP.
Hanya sebuah langkah kecil yang dibangun ketiga sahabat ini yang kini sudah kembali berjibaku di jalur indie. Setidaknya, kita bisa sedikit bersyukur, blink-182 belum bubar (lagi), malah bahkan menelurkan EP. Terlalu naïf dibilang pendewasaan, karena from their past quality, menurut saya, mereka bisa jauh lebih baik dari ini, kita tinggal menunggu waktu, untuk mereka berlama-lama di studio, menyatukan ide, menjauhkan ego, bukan hanya produktif, tapi bermain sebagai band. Happy Holidays you bastard.
Rekomendasi Saya :
Boxing Day - Pedih, kekinian, segar, renyah dan mudah ditelan. Syahdu. Dengarkan sehari setelah Natal untuk kesan lebih mengena, dan jauhkan segala kemungkinan untuk mendekati benda tajam.
Dimohon tidak terlalu dianggap serius atau bahkan dijadikan bahan skripsi.
Kali ini, review ini (kayaknya) aman dibaca anak kecil, (diusahakan) tidak mengandung kata-kata cabul.
“Dogs Eating Dogs EP” adalah hadiah Natal. Period. Euphoria fans yang menggila melihat secara tiba-tiba trio Tom, Mark dan Travis sudah berkumpul di studio dan berlatih, dan malah menulis lagu buat EP sukar dibayangkan. Mengingat "Neighborhoods" yang (ternyata) lumayan biasa saja, tentu saja ada ekspektasi berlebihan untuk EP kali ini.
When I Was Young memulai akhir tahun yang terasa begitu cepat ini dengan alunan intro string beat elektronik yang temaram, damai dan tentram, lalu seketika ketukan drum rapat muncul dan Tom bernyanyi tentang kegamangan hidup “The more I go on the less I can face this, And those rotten things that live in our shadow” – kecenderungan tema lirik yang ditulis Tom di hampir semua lagu blink-182 era kekinian- dengan tensi seperti masa-masa suram cerminan khas Boxcar Racer.
Kita akan menemukan bahwa chorus catchy (yang dihajar langsung setelah verse) berbunyi “It’s the worst damn day! ” adalah kebalikan dari optimisme dan keberanian yang biasanya Tom dengungkan melalui Angels&Airwaves. Saya hampir lupa kalau ini blink-182 sampai pada saat Mark mengisi senandung sarkasme “Doesn’t hurt that; much..”. (Oh iya, itu dia Mark!, ini blink-182!)
Lagu yang catchy, Ehm, Boxcar Racer-ish? :p
Dangkal ah.
Lalu, pada Disaster, Mark memulai dengan line bass post-punk monoton dan Tom?
Seperti biasa, dia malah asyik bermain-main dengan seperangkat rak peralatan bekas kesayangan milik Greenwood, sebelum mengisi dengan sound gitar khas, ehm AVA.
Lagu ini mirip dengan resep kebanyakan lagu di "Neighborhoods", Travis masih dengan peran terbaiknya saat ini memberi warna dengan isi drum yang mulai tak terbayangkan, sementara peran Mark mulai kelihatan dengan suara berat dan parau – mungkin dia berharap bisa terdengar seperti Darth Vader - dikala Tom menyanyikan, hmmm.. sebuah cerita cinta getir dan gelap?
Saya menebak kita pun akan sering menemukan lagu-lagu seperti ini di album-album berikutnya. Mencampur aduk semua ego.
Mereka bermain aman, tidak keluar dari zona nyaman masing-masing individu.
Masih terasa gelap, bersahaja, sesuka mereka, dan ya, saya rasa, telinga kita semua masih harus beradaptasi.
Ah, saya rindu balada.
Petikan merdu akustik dan lirik picisan mendayu-dayu.
Elektronik menjemukan sejak era AVA dan +44 akan membuat siapa saja yang menjadi fans blink-182 butuh sebuah lagu renyah untuk bersantai di pinggir pantai dengan rasa patah hati yang berceceran bersama pasir, dan Natal ini, Boxing Day seharusnya hadir layaknya Juruselamat di kandang domba.
Uniknya, alih-alih dibuat seperti lagu anak pinggir pantai California, lagu ini seperti dinyanyikan oleh dua cowboy gay yang saling membuka luka sambil bermain gitar di peternakan. Folk Pop. Dibanding lagu dengan gaya yang hampir terdengar seperti When You Fucked Grandpa (The Grandpa Song) ini,
Tom malah menulis lirik seindah “We could reignite, like fireflies, Like an atom bomb at all hours” tanpa beban, lalu dengan elegan, Mark mengingatkan pada momentum yang akan membangunkan kenangan paling menyakitkan terbaik pada chorus yang seharusnya diambil Hallmark untuk tulisan dalam “Christmas Card of The Year”, niscaya laris manis. “I’m empty like the day after Christmas, swept beneath the wave of your goodbye, You left me on the day after Christmas, There’s nothing left to say, and so Goodnight..” ,
Pedih, kekinian, segar, renyah dan mudah ditelan. Syahdu
Intro menjanjikan dan serba menghentak dalam Dogs Eating Dogs akan membawa kita kepada dogma Oh-inikah-blink-182-yang-kita-nantikan-selama-ini-ism,
dan Mark, (yeah Mark),
dengan lantang membawa tempo rapat nan pintar Travis kedalam nostalgia tembak langsung a la +44,
saya suka lirik “We would always starve and devour our closest friends my beautiful friends, paranoia my paranoia” lagu ini tanpa basa-basi membombardir begitu saja.
Lagu ini meracau secara agresif – in a positive way -, dan Mark menulis sebuah kebingungan dan ketidakberdayaan dengan idiom yang diulang-ulang pada chorus “Dogs eating dogs” sebagai kesimpulan, membombardir kita dengan Tom menyapa lewat bridge dengan gaya khas menimpali seolah merasakan apa yang Mark nyanyikan.
Lupakan melody penuh canda sarkasme menggelitik dan teman khayalan di penjara a la I won’t Be Home At Christmas – atau bahkan Fuck A Dog yang amat saya harapkan – Apabila kita bicara tentang lagu yang dirilis mendekati Natal dari blink-182, buat para old school fans, mereka menjadikan lagu ini sebagai amunisinya, dengan presisi sedikit lebih serius –ya sebut saja dewasa - tentunya.
Haha. AVA-ish. Pretty Little Girl sebenarnya tidak salah sama sekali, tapi paling tidak, ini akan mengganggu ekspektasi mereka yang tidak setuju Tom terlalu mengekspos sound modern a la U2 kedalam materi blink-182. Sedikit mirip dengan lick gitar Good Day milik AVA di beberapa part dan nada, namun ya, harus dimaafkan karena mau bagaimana pun juga, ini tetap lagu yang catchy – yang sialnya, nada “I’ve got my eye on you, whatca gonna do?” itu gampang stuck di kepala – dan yang menyenangkan adalah tema yang simple, tidak gelap. Apalagi saat Yelawolf maju mengisi baris demi baris barikade lirik dengan nafas rap yang – meski saya tidak mengerti maksudnya - terasa sebagai pidato panjang dinamis yang dilumuri ritme drum Travis. Tidak luar biasa, tapi blink-182 melakukan hal berbeda lagi, ya tapi ya, meski bukan yang terbaik, it’s still a good and catchy song.
Tidak banyak perubahan dari "Neighborhoods", dan tidak memberi pencerahan berarti bagi mereka yang menunggu sebuah masterpiece dari Tom, Mark, dan Travis.
Ini hanyalah EP.
Hanya sebuah langkah kecil yang dibangun ketiga sahabat ini yang kini sudah kembali berjibaku di jalur indie. Setidaknya, kita bisa sedikit bersyukur, blink-182 belum bubar (lagi), malah bahkan menelurkan EP. Terlalu naïf dibilang pendewasaan, karena from their past quality, menurut saya, mereka bisa jauh lebih baik dari ini, kita tinggal menunggu waktu, untuk mereka berlama-lama di studio, menyatukan ide, menjauhkan ego, bukan hanya produktif, tapi bermain sebagai band. Happy Holidays you bastard.
Rekomendasi Saya :
Boxing Day - Pedih, kekinian, segar, renyah dan mudah ditelan. Syahdu. Dengarkan sehari setelah Natal untuk kesan lebih mengena, dan jauhkan segala kemungkinan untuk mendekati benda tajam.
Sunday, August 19, 2012
Musik Indonesia, dimana kita Middle Class yang budiman?
Udah lama mau nulis ini,
cuma kehalang banyak ke-sok-sibuk-an.
Sedikit peringatan,
jangan dianggep serius ya kata-kata dibawah,
efek kebanyakan santen suka ngaco soalnya.
Oke,
berapa kali kita denger orang ngomong atau ngetwit mengeluh soal,
ehm, kondisi musik kita saat ini?
Berapa kali mereka menyemburkan makian kepada pelaku industri musik Indonesia?
Boyband dihina, band pop-rock-komersil berponi lempar dan bercelana ketat dibilang sampah,
dan yah, apapun yang menuju mainstream dan (akhirnya mau) manggung lipsync,
dihujat besar-besaran.
Padahal mereka lupa,
kalau banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan,
dalam menganggapi hal-hal semacam ini.
Sejujurnya,
saya pun muak mendengar dan menyimak hal-hal yang saya sebutkan diatas,
eh-ya-tapi,
saya berfikir ulang berkali-kali, mencaci lagi, menghina lagi, berfikir lagi, mulai mengurangi cacian,
dan berfikir lagi,
dan yak,saya sampai pada satu kesimpulan.
Saya itu cuma bisa mencaci maki, menghina dina, tanpa melakukan hal-hal berarti.
Kondisi ini bikin saya frustasi (caelah..) dan menolak makan makanan mahal yang ga enak.
Hingga pada akhirnya,
saya kok gerah ya,
banyak ternyata yang cuma bisa ngasih komentar dan kritik pedas,
tanpa mau susah-susah ngasih solusi.
Nenek-nenek aja kadang masih bisa salto,
trus masa kita ngasih solusi aja ga bisa?
Pertama kita ambil pokok persoalan mengapa kita merasa musik Indonesia,
(katanya ada) di ambang malapetaka dan kehancuran.
Boyband malang melintang di TV, Girlband dibilang cuma modal joget-joget dan tampang ciamik,
lalu apa? Band-band menye-menye selalu menghiasi apapun di televisi,
dari klip-klip selintas yang menjual lagu berbasis pulsa, iklan-iklan dari produk rokok hingga makanan,
sampai jadi soundtrack opera sabun yang notabene diputer ampe bosen kuping kita dengernya.
Bahkan diulas kehidupan pribadi mereka dari yang apa yang mereka bawa di tas, sampai apa yang suka
mereka beli kalo lagi belanja di pasar swalayan oleh yang maha sakti, ragam infotainment.
Oh Tuhan, ternyata neraka benar adanya.
Dari ragam pokok persoalan diatas,
pertanyaan-nya adalah "Mengapa"
Ya, mengapa bisa begitu.
Karena mereka dicintai.
Yap, mereka dicintai oleh orang-orang yang bukan seperti kita.
Dear Middle dan High Class yang berbudi pekerti luhur.
Contoh paling up to date,
Boyband dan girlband meroket-entah kenapa disebut meroket, kenapa ga mepesawat atau mekapalterbang, atau mebendaasingterbang tapi kayaknya asik aja, megah gitu-,
karena dukungan tak henti-henti terhadap eksistensi mereka.
Sebagai contoh, merchandise mereka ada yang beli, CD mereka laku dipasaran,
banyak yang dateng pas mereka manggung,
dukungan seperti itu membuat mereka, mebendaterbangasing diatas sana.
Alias melayang bebas menembus awan.
Alias bertahan di industri.
Persetan mau dibilang musiman juga, yang pasti,
mereka berhasil unjuk gigi-dan tarian gemulai tentunya- di hampir setiap acara TV swasta,
ga kayak band kalian, atau band saya.
Jadi persoalannya apa?
Ternyata, alay-alay yang kalian, atau saya suka hina, ludahi atau bahkan pengen memberangus mereka,
adalah sumber penghidupan industri.
Mereka, yang kita sebut alay, malah gemar menabung dan rajin ibadah demi membeli pernak-pernik idola mereka.
Mereka, yang kita sebut alay, menyisihkan uang demi membeli majalah berisi poster, menahan jajan demi punya CD original,
atau rajin menghafal lirik dan siap menembus puluhan kilometer hanya untuk datang di show artis idola.
Mereka, yang kita sebut alay malah sadar, bahwa idola mereka harus didukung penuh oleh keringat darah.
Ya emang sih,
banyak juga yang masih beli bajakan, atau malah ngebuat bajakan,
ya karena mungkin semerta-merta, tak punya uang. Klise, tapi itu tetap alasan utama.
Lalu, dimana posisi kita?
Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay?
Bangga memiliki produk merch band luar negri,
dateng ke konser eksklusif yang masyaampun mahalnya,
beli boxset berisi CD-Cd band legenda luar negri re-issue yang keren abis, dan masyaampun kuadrat mahalnya,
pre-order bundle berisi ragam pernak-pernik spesial yang bernomor seri yang menggiurkan, dan kadang harganya,
berjalan selurus seimbang dengan ongkos kirimnya ke negri tercinta kita ini. Cihuy.
Sembari apa?
Mengcopy mp3 band-band dalam negri yang menyisihkan uang mereka demi memproduksi demo,
dan kalau sedikit beruntung, mereka dapet label yang mau bayarin distribusi,
tapi proses produksi tetep nguras uang pribadi anggota band tersebut.
Lalu memuji, atau mencaci kalau jelek, padahal kita ga rugi apa-apa.
lah wong cuma dengerin mp3 bajakannya aja kok. Gratis pula.
Giliran band-band ini cari dana,
dimana kita?
"Bagi sini merch-nya.." atau giliran mereka produksi CD "Sini dong gratisan CD-nya, kan kita temen.."
Hahahaha. Gue brengsek banget ternyata.
Believe me, Gue itu contoh nyata apa yang gue tulis diatas.
Keringet darah masbro, dan kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
malah bermental gratisan.
Maunya dibilang temen, tanpa mau susah-susah ngasih sedikit donasi,
terhadap perkembangan donasi terhadap industri musik dalam negeri yang notabene,
bukan hanya butuh opini, tapi juga support nyata.
Maunya apa-apa dikasih. Even tiket masuk showcase kecil-kecilan aja kita masih minta free pass.
Keren.
Eh ya harusnya yang idealnya sih ya,
Kita dukung band-band dalem negeri yang kita anggap bagus, dan band keren luar negeri, yang kita jadiin panutan.
Band-band dalem negri ini, bahkan sampai pada kenyataan,
udahlah ga apa-apa dibajak, atau digratiskan lagu kita,
demi mendapat perhatian yang lebih luas, dan mencari penghidupan via manggung,
atau jual merchandise.
Yakali, satu dua band masih ga apa-apa. tapi makin banyak band begitu,
bagaimana nasib industri kita nantinya?
Eh, kok masih nanya?
Nih ya gue ulang.
"Boyband malang melintang di TV, Girlband dibilang cuma modal joget-joget dan tampang ciamik,
lalu apa? Band-band menye-menye selalu menghiasi apapun di televisi,
dari klip-klip selintas yang menjual lagu berbasis pulsa, iklan-iklan dari produk rokok hingga makanan,
sampai jadi soundtrack opera sabun yang notabene diputer ampe bosen kuping kita dengernya.
Bahkan diulas kehidupan pribadi mereka dari yang apa yang mereka bawa di tas, sampai apa yang suka
mereka beli kalo lagi belanja di pasar swalayan oleh yang maha sakti, ragam infotainment.
Oh Tuhan, ternyata neraka benar adanya."
Memang, malaikat itu ada, dan Tuhan masih adil,
pahlawan-pahlawan musik kita masih berkreasi,
Gugun Blues Shelter, salah satu juara blues anti-industri melayu menye-menye,
mengharumkan Indonesia ke Inggris, main bersama para dewa-dewi legenda musik dunia,
dengan kenyataan Om Jono juga harus jadi MC acara musik pagi yang penuh artis lipsync, dan bahkan mesti harus mengisi acara sahur tidak lucu. Kita beli CD mereka? Kita beli merch mereka?
Kalo cuma muji di jejaring sosial atau dateng beberapa kali di showcase murah mereka mah nenek-nenek yang jago salto juga bisa kawan-kawan ngehe. ;)
PWG, atau PeeWee Gaskins, atau kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay, menyebut mereka, "piwigangsing". Band dengan haters gila-gilaan ini malah main di SummerSonic Jepang, dielu-elukan di negri Sakura. kita, yang tanpa malu menyebut Dorks sebagai bagian dari barisan alay, malah tidak segan-segan menabung membuat ludes semua merch, cd, apapun
demi membawa band kebanggaan mereka menuju, mimpi kebanyakan band.
Dimana saat band kita, dilupakan dan ga diajak manggung dimana-mana. Pfftttt.
Ah, maafkan saya band-band diatas,
saya juga dulu haters banyak band dan bahkan ga pernah bantu mereka kok. Hiks.
Tapi percayalah, gue sedikit-sedikit mulai sadar,
mulai memberikan donasi terhadap band-band yang gue suka dan akhirnya menyerah untuk mensupport.
Karena, ada banyak band bagus, di bumi pertiwi kita ini.
Mungkin industri morat-marit,
tapi masih ada bawah tanah. Semangat indie.
The Trees and The Wild menuju Eropa. Polyester Embassy dkk malang melintang di Asia.
Bottlesmoker keliling manasaja boleh,
atau Seringai dan Deadsquad yang sukses merajai penjualan merch,
Arina bela-belain bikin showcase Mocca demi tuntutan die hard fans Mocca,
banyak band yang fans-nya mulai sadar,
band kebanggaan mereka tak akan bisa apa-apa tanpa dukungan luar biasa.
Mari kita,
Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
mulai berhenti memandang rendah lower class,
penampilan mereka mungkin tidak seciamik hipster ibukota,
tapi, semangat mereka mendukung idola mereka harus kita contoh.
Gue ga asal ngomong,
sering banget gue perhatiin,
pembeli CD-CD dan merch band dalem negri itu bukan hipster-hipster Ibukota kok,
atau kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay.
Mulailah malu mendengarkan lagu via Mp3 yang kalian download gratisan,
malu harusnya bisa beli barang dari brand terkemuka dunia,
tapi CD band dalam negri 35rb saja dibajak.
Mulailah menghargai kawan, sejawat, saudara, yang berjuang di industri musik Indonesia.
Band jelek banyak, bukan berarti Band bagus sedikit.
Band juga harus ngasih yang terbaik,
bikin lagu, buat pesan, dan kemasan yang baik.
Bikin konsep dan attitude yang baik, jangan hanya ikut arus dan tren,
mulailah mengamati, meniru sedikit, dan memodifikasi dengan cara kalian sendiri.
Band juga tidak boleh manja,
bikin apapun yang bagus,
jangan setengah-setengah.
Kalo bagus pasti dilirik kok.
Agar kita, kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
terenyuh dan tergerak membeli produksi kalian.
Masa depan musik Indonesia,
ternyata di tangan kita.
Beli CD, jangan Bra. #Eh
Berteriaklah kepada mereka.
"SAYA NABUNG BELI CD DAN MERCH ORIGINAL KALIAN, MAIN YANG BAGUS YAH!"
Note:
Ehyatapi, band jelek tetap saja jelek, mau indie, major, mainstream,
apa saja, kalo jelek tetap jelek. Yang bagus kita dukung. Yang jelek,
suruh bikin yang bagus, baru kita dukung. :D
Karena, mungkin saja bukan musik yang kalian hasilkan yang jelek,
mungkin saja, attitude, atau ragam lainnya yang kurang asik.
atau sebaliknya. Atau semuanya jelek. Atau belum waktunya jadi bagus.
Selamat berjuang musik Indonesia!
cuma kehalang banyak ke-sok-sibuk-an.
Sedikit peringatan,
jangan dianggep serius ya kata-kata dibawah,
efek kebanyakan santen suka ngaco soalnya.
Oke,
berapa kali kita denger orang ngomong atau ngetwit mengeluh soal,
ehm, kondisi musik kita saat ini?
Berapa kali mereka menyemburkan makian kepada pelaku industri musik Indonesia?
Boyband dihina, band pop-rock-komersil berponi lempar dan bercelana ketat dibilang sampah,
dan yah, apapun yang menuju mainstream dan (akhirnya mau) manggung lipsync,
dihujat besar-besaran.
Padahal mereka lupa,
kalau banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan,
dalam menganggapi hal-hal semacam ini.
Sejujurnya,
saya pun muak mendengar dan menyimak hal-hal yang saya sebutkan diatas,
eh-ya-tapi,
saya berfikir ulang berkali-kali, mencaci lagi, menghina lagi, berfikir lagi, mulai mengurangi cacian,
dan berfikir lagi,
dan yak,saya sampai pada satu kesimpulan.
Saya itu cuma bisa mencaci maki, menghina dina, tanpa melakukan hal-hal berarti.
Kondisi ini bikin saya frustasi (caelah..) dan menolak makan makanan mahal yang ga enak.
Hingga pada akhirnya,
saya kok gerah ya,
banyak ternyata yang cuma bisa ngasih komentar dan kritik pedas,
tanpa mau susah-susah ngasih solusi.
Nenek-nenek aja kadang masih bisa salto,
trus masa kita ngasih solusi aja ga bisa?
Pertama kita ambil pokok persoalan mengapa kita merasa musik Indonesia,
(katanya ada) di ambang malapetaka dan kehancuran.
Boyband malang melintang di TV, Girlband dibilang cuma modal joget-joget dan tampang ciamik,
lalu apa? Band-band menye-menye selalu menghiasi apapun di televisi,
dari klip-klip selintas yang menjual lagu berbasis pulsa, iklan-iklan dari produk rokok hingga makanan,
sampai jadi soundtrack opera sabun yang notabene diputer ampe bosen kuping kita dengernya.
Bahkan diulas kehidupan pribadi mereka dari yang apa yang mereka bawa di tas, sampai apa yang suka
mereka beli kalo lagi belanja di pasar swalayan oleh yang maha sakti, ragam infotainment.
Oh Tuhan, ternyata neraka benar adanya.
Dari ragam pokok persoalan diatas,
pertanyaan-nya adalah "Mengapa"
Ya, mengapa bisa begitu.
Karena mereka dicintai.
Yap, mereka dicintai oleh orang-orang yang bukan seperti kita.
Dear Middle dan High Class yang berbudi pekerti luhur.
Contoh paling up to date,
Boyband dan girlband meroket-entah kenapa disebut meroket, kenapa ga mepesawat atau mekapalterbang, atau mebendaasingterbang tapi kayaknya asik aja, megah gitu-,
karena dukungan tak henti-henti terhadap eksistensi mereka.
Sebagai contoh, merchandise mereka ada yang beli, CD mereka laku dipasaran,
banyak yang dateng pas mereka manggung,
dukungan seperti itu membuat mereka, mebendaterbangasing diatas sana.
Alias melayang bebas menembus awan.
Alias bertahan di industri.
Persetan mau dibilang musiman juga, yang pasti,
mereka berhasil unjuk gigi-dan tarian gemulai tentunya- di hampir setiap acara TV swasta,
ga kayak band kalian, atau band saya.
Jadi persoalannya apa?
Ternyata, alay-alay yang kalian, atau saya suka hina, ludahi atau bahkan pengen memberangus mereka,
adalah sumber penghidupan industri.
Mereka, yang kita sebut alay, malah gemar menabung dan rajin ibadah demi membeli pernak-pernik idola mereka.
Mereka, yang kita sebut alay, menyisihkan uang demi membeli majalah berisi poster, menahan jajan demi punya CD original,
atau rajin menghafal lirik dan siap menembus puluhan kilometer hanya untuk datang di show artis idola.
Mereka, yang kita sebut alay malah sadar, bahwa idola mereka harus didukung penuh oleh keringat darah.
Ya emang sih,
banyak juga yang masih beli bajakan, atau malah ngebuat bajakan,
ya karena mungkin semerta-merta, tak punya uang. Klise, tapi itu tetap alasan utama.
Lalu, dimana posisi kita?
Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay?
Bangga memiliki produk merch band luar negri,
dateng ke konser eksklusif yang masyaampun mahalnya,
beli boxset berisi CD-Cd band legenda luar negri re-issue yang keren abis, dan masyaampun kuadrat mahalnya,
pre-order bundle berisi ragam pernak-pernik spesial yang bernomor seri yang menggiurkan, dan kadang harganya,
berjalan selurus seimbang dengan ongkos kirimnya ke negri tercinta kita ini. Cihuy.
Sembari apa?
Mengcopy mp3 band-band dalam negri yang menyisihkan uang mereka demi memproduksi demo,
dan kalau sedikit beruntung, mereka dapet label yang mau bayarin distribusi,
tapi proses produksi tetep nguras uang pribadi anggota band tersebut.
Lalu memuji, atau mencaci kalau jelek, padahal kita ga rugi apa-apa.
lah wong cuma dengerin mp3 bajakannya aja kok. Gratis pula.
Giliran band-band ini cari dana,
dimana kita?
"Bagi sini merch-nya.." atau giliran mereka produksi CD "Sini dong gratisan CD-nya, kan kita temen.."
Hahahaha. Gue brengsek banget ternyata.
Believe me, Gue itu contoh nyata apa yang gue tulis diatas.
Keringet darah masbro, dan kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
malah bermental gratisan.
Maunya dibilang temen, tanpa mau susah-susah ngasih sedikit donasi,
terhadap perkembangan donasi terhadap industri musik dalam negeri yang notabene,
bukan hanya butuh opini, tapi juga support nyata.
Maunya apa-apa dikasih. Even tiket masuk showcase kecil-kecilan aja kita masih minta free pass.
Keren.
Eh ya harusnya yang idealnya sih ya,
Kita dukung band-band dalem negeri yang kita anggap bagus, dan band keren luar negeri, yang kita jadiin panutan.
Band-band dalem negri ini, bahkan sampai pada kenyataan,
udahlah ga apa-apa dibajak, atau digratiskan lagu kita,
demi mendapat perhatian yang lebih luas, dan mencari penghidupan via manggung,
atau jual merchandise.
Yakali, satu dua band masih ga apa-apa. tapi makin banyak band begitu,
bagaimana nasib industri kita nantinya?
Eh, kok masih nanya?
Nih ya gue ulang.
"Boyband malang melintang di TV, Girlband dibilang cuma modal joget-joget dan tampang ciamik,
lalu apa? Band-band menye-menye selalu menghiasi apapun di televisi,
dari klip-klip selintas yang menjual lagu berbasis pulsa, iklan-iklan dari produk rokok hingga makanan,
sampai jadi soundtrack opera sabun yang notabene diputer ampe bosen kuping kita dengernya.
Bahkan diulas kehidupan pribadi mereka dari yang apa yang mereka bawa di tas, sampai apa yang suka
mereka beli kalo lagi belanja di pasar swalayan oleh yang maha sakti, ragam infotainment.
Oh Tuhan, ternyata neraka benar adanya."
Memang, malaikat itu ada, dan Tuhan masih adil,
pahlawan-pahlawan musik kita masih berkreasi,
Gugun Blues Shelter, salah satu juara blues anti-industri melayu menye-menye,
mengharumkan Indonesia ke Inggris, main bersama para dewa-dewi legenda musik dunia,
dengan kenyataan Om Jono juga harus jadi MC acara musik pagi yang penuh artis lipsync, dan bahkan mesti harus mengisi acara sahur tidak lucu. Kita beli CD mereka? Kita beli merch mereka?
Kalo cuma muji di jejaring sosial atau dateng beberapa kali di showcase murah mereka mah nenek-nenek yang jago salto juga bisa kawan-kawan ngehe. ;)
PWG, atau PeeWee Gaskins, atau kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay, menyebut mereka, "piwigangsing". Band dengan haters gila-gilaan ini malah main di SummerSonic Jepang, dielu-elukan di negri Sakura. kita, yang tanpa malu menyebut Dorks sebagai bagian dari barisan alay, malah tidak segan-segan menabung membuat ludes semua merch, cd, apapun
demi membawa band kebanggaan mereka menuju, mimpi kebanyakan band.
Dimana saat band kita, dilupakan dan ga diajak manggung dimana-mana. Pfftttt.
Ah, maafkan saya band-band diatas,
saya juga dulu haters banyak band dan bahkan ga pernah bantu mereka kok. Hiks.
Tapi percayalah, gue sedikit-sedikit mulai sadar,
mulai memberikan donasi terhadap band-band yang gue suka dan akhirnya menyerah untuk mensupport.
Karena, ada banyak band bagus, di bumi pertiwi kita ini.
Mungkin industri morat-marit,
tapi masih ada bawah tanah. Semangat indie.
The Trees and The Wild menuju Eropa. Polyester Embassy dkk malang melintang di Asia.
Bottlesmoker keliling manasaja boleh,
atau Seringai dan Deadsquad yang sukses merajai penjualan merch,
Arina bela-belain bikin showcase Mocca demi tuntutan die hard fans Mocca,
banyak band yang fans-nya mulai sadar,
band kebanggaan mereka tak akan bisa apa-apa tanpa dukungan luar biasa.
Mari kita,
Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
mulai berhenti memandang rendah lower class,
penampilan mereka mungkin tidak seciamik hipster ibukota,
tapi, semangat mereka mendukung idola mereka harus kita contoh.
Gue ga asal ngomong,
sering banget gue perhatiin,
pembeli CD-CD dan merch band dalem negri itu bukan hipster-hipster Ibukota kok,
atau kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay.
Mulailah malu mendengarkan lagu via Mp3 yang kalian download gratisan,
malu harusnya bisa beli barang dari brand terkemuka dunia,
tapi CD band dalam negri 35rb saja dibajak.
Mulailah menghargai kawan, sejawat, saudara, yang berjuang di industri musik Indonesia.
Band jelek banyak, bukan berarti Band bagus sedikit.
Band juga harus ngasih yang terbaik,
bikin lagu, buat pesan, dan kemasan yang baik.
Bikin konsep dan attitude yang baik, jangan hanya ikut arus dan tren,
mulailah mengamati, meniru sedikit, dan memodifikasi dengan cara kalian sendiri.
Band juga tidak boleh manja,
bikin apapun yang bagus,
jangan setengah-setengah.
Kalo bagus pasti dilirik kok.
Agar kita, kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
terenyuh dan tergerak membeli produksi kalian.
Masa depan musik Indonesia,
ternyata di tangan kita.
Beli CD, jangan Bra. #Eh
Berteriaklah kepada mereka.
"SAYA NABUNG BELI CD DAN MERCH ORIGINAL KALIAN, MAIN YANG BAGUS YAH!"
Note:
Ehyatapi, band jelek tetap saja jelek, mau indie, major, mainstream,
apa saja, kalo jelek tetap jelek. Yang bagus kita dukung. Yang jelek,
suruh bikin yang bagus, baru kita dukung. :D
Karena, mungkin saja bukan musik yang kalian hasilkan yang jelek,
mungkin saja, attitude, atau ragam lainnya yang kurang asik.
atau sebaliknya. Atau semuanya jelek. Atau belum waktunya jadi bagus.
Selamat berjuang musik Indonesia!
Monday, August 6, 2012
Biarkan Hilang
Post kedua di 2012.
menyedihkan.
Selain karena koneksi dirumah yang selambat anak babi yang baru tertembak peluru nyasar,
di kantor pun situs blog-ing kesayangan ini dilarang dibuka, alias di block.
Pffftt.
Apa kabar kehidupan disini?
Sunyi sepertinya,
mengingat tulisan terakhir yang diposting disini tepat di awal Februari,
dimana jari-jari meronta-ronta mengetik setelah dihajar bolak-balik hingga lebam di dalam hati, oleh segala ketidakmungkinan kehidupan.
Kali ini, apa yang mau ditumpahkan ya?
Ah biarkan hilang.
Ya, biarkan hilang, ditelan waktu, dibuang hujan,
disisi-sisi liang kematian jiwa dia berkarat,
menunggu dibuang,
menunggu hilang.
Kalau kalian pernah merasa lebih baik memendam nuklir daripada melepaskan sebuah misil,
maka inilah waktunya berfikir ulang.
Yeah, Mike, berfikir ulang.
Apa yang saya dapat?
Kadang muncul pertanyaan di benak gue,
apa guna gue?
Kegunaan.
Yap, entah apa yang udah gue lakuin sepanjang 25 tahun hidup.
Apa guna gue?
Kalo melihat dari prestasi dan profesi,
gue hampir nol besar.
Setelah nganggur setahun dua bulan dan merasa sangat worthless setiap detik,
Tuhan yang sangat baik ngasih gue kesempatan untuk nyicipin apa itu namanya digaji.
Gaji itu ibarat musuh ekspektasi,
gimana ya jelasinnya,
pernah ga sih, ibarat lu dapet jatah makanan lebih banyak,
tapi malah perut lu ga kenyang-kenyang?
Dasar Manusia.
Mungkin salah gue untuk menentukan alokasi,
tapi setelah dikalkulasi,
i don't even have the budget for doing some fucking fun things!
Ngerasa capek kadang,
kala lu ga ngerasa nikmatin atau foya-foya,
tapi lu selalu ga punya uang,
menguras tabungan,
dan yak, tetep ga senang-senang.
Kalo yang gue maksud foya-foya,
jangan bayangin gue masuk cafe mewah dengan minuman yang datang ga kelar-kelar,
it's not me,
gue memilih untuk berselancar di fjb kaskus dan beli barang 2nd hand inceran karena gue ga sanggup beli dengan harga baru.
Miris. Pas kerja malah lebih sering beli pas diskon atau pas ada yang jual 2nd.
Budget liburan aja megap-megap,
terakhir kali pergi ke Bandung,
pulang-pulang rasanya pengen berantem sama pencipta mesin Anjungan Tunai Mandiri.
Banyak yang bilang gue itu terlalu berfikir akan sesuatu,
apa ya itu istilahnya,
intinya gue kebanyakan mikir.
Ya iyalah,
kalo lu dibesarin sejak kecil dengan deg-degan sepanjang akhir bulan karena takut ga bisa bayar iuran atau biaya semesteran, lu bakal tumbuh jadi anak kayak gue,
kebanyakan mikir.
Jadinya penakut,
takut gagal,
takut kalah,
semua takut,
pengecut.
Haha. Udah dipanggil kayak gitu sejak SD,
trus lu mau apa?
Gue gak suka gambling,
gue ga doyan ngambil keputusan yang gue tau,
ntar pas salah gue yang kena habis-habisan.
Cobain aja rasanya,
ambil keputusan atas dasar keinginan murni dan luhur membantu sesama,
trus pas salah dikit dinyinyirin.
Kodok laut.
What's next?
Tumbuh jadi pribadi pengecut yang selalu disalahkan kalau mengambil keputusan?
Gue itu apatis sejak dini.
Entah kenapa,
mungkin memang penakut dan apatis itu temenan deket,
atau malah sodaraan,
tapi gue ngerasa itu mereka dateng sepaket.
Kalau ada orang yang ngaku pesimis, dan disemangatin jadi optimis,
maka gue, apatis,
akan makin tipis nyalinya saat dikasih kritik,
dan ga percaya sama tepukan tangan penyemangat.
Pffftttt.
Well,
i was born this way,
ini seperangkat kelemahan gue,
dibalik semua, emm.. beberapa, mm.. sebagian kecil, uuh,. sedikit kelebihan gue.
If you guys hate all my weaknesses, then don't you guys wanna know how much i hate myself? ;)
Apa ini menjawab pertanyaan gue,
apa kegunaan gue?
Ah ini cuma pikiran di sore hari nan panas,
sudah,
biarkan hilang.
menyedihkan.
Selain karena koneksi dirumah yang selambat anak babi yang baru tertembak peluru nyasar,
di kantor pun situs blog-ing kesayangan ini dilarang dibuka, alias di block.
Pffftt.
Apa kabar kehidupan disini?
Sunyi sepertinya,
mengingat tulisan terakhir yang diposting disini tepat di awal Februari,
dimana jari-jari meronta-ronta mengetik setelah dihajar bolak-balik hingga lebam di dalam hati, oleh segala ketidakmungkinan kehidupan.
Kali ini, apa yang mau ditumpahkan ya?
Ah biarkan hilang.
Ya, biarkan hilang, ditelan waktu, dibuang hujan,
disisi-sisi liang kematian jiwa dia berkarat,
menunggu dibuang,
menunggu hilang.
Kalau kalian pernah merasa lebih baik memendam nuklir daripada melepaskan sebuah misil,
maka inilah waktunya berfikir ulang.
Yeah, Mike, berfikir ulang.
Apa yang saya dapat?
Kadang muncul pertanyaan di benak gue,
apa guna gue?
Kegunaan.
Yap, entah apa yang udah gue lakuin sepanjang 25 tahun hidup.
Apa guna gue?
Kalo melihat dari prestasi dan profesi,
gue hampir nol besar.
Setelah nganggur setahun dua bulan dan merasa sangat worthless setiap detik,
Tuhan yang sangat baik ngasih gue kesempatan untuk nyicipin apa itu namanya digaji.
Gaji itu ibarat musuh ekspektasi,
gimana ya jelasinnya,
pernah ga sih, ibarat lu dapet jatah makanan lebih banyak,
tapi malah perut lu ga kenyang-kenyang?
Dasar Manusia.
Mungkin salah gue untuk menentukan alokasi,
tapi setelah dikalkulasi,
i don't even have the budget for doing some fucking fun things!
Ngerasa capek kadang,
kala lu ga ngerasa nikmatin atau foya-foya,
tapi lu selalu ga punya uang,
menguras tabungan,
dan yak, tetep ga senang-senang.
Kalo yang gue maksud foya-foya,
jangan bayangin gue masuk cafe mewah dengan minuman yang datang ga kelar-kelar,
it's not me,
gue memilih untuk berselancar di fjb kaskus dan beli barang 2nd hand inceran karena gue ga sanggup beli dengan harga baru.
Miris. Pas kerja malah lebih sering beli pas diskon atau pas ada yang jual 2nd.
Budget liburan aja megap-megap,
terakhir kali pergi ke Bandung,
pulang-pulang rasanya pengen berantem sama pencipta mesin Anjungan Tunai Mandiri.
Banyak yang bilang gue itu terlalu berfikir akan sesuatu,
apa ya itu istilahnya,
intinya gue kebanyakan mikir.
Ya iyalah,
kalo lu dibesarin sejak kecil dengan deg-degan sepanjang akhir bulan karena takut ga bisa bayar iuran atau biaya semesteran, lu bakal tumbuh jadi anak kayak gue,
kebanyakan mikir.
Jadinya penakut,
takut gagal,
takut kalah,
semua takut,
pengecut.
Haha. Udah dipanggil kayak gitu sejak SD,
trus lu mau apa?
Gue gak suka gambling,
gue ga doyan ngambil keputusan yang gue tau,
ntar pas salah gue yang kena habis-habisan.
Cobain aja rasanya,
ambil keputusan atas dasar keinginan murni dan luhur membantu sesama,
trus pas salah dikit dinyinyirin.
Kodok laut.
What's next?
Tumbuh jadi pribadi pengecut yang selalu disalahkan kalau mengambil keputusan?
Gue itu apatis sejak dini.
Entah kenapa,
mungkin memang penakut dan apatis itu temenan deket,
atau malah sodaraan,
tapi gue ngerasa itu mereka dateng sepaket.
Kalau ada orang yang ngaku pesimis, dan disemangatin jadi optimis,
maka gue, apatis,
akan makin tipis nyalinya saat dikasih kritik,
dan ga percaya sama tepukan tangan penyemangat.
Pffftttt.
Well,
i was born this way,
ini seperangkat kelemahan gue,
dibalik semua, emm.. beberapa, mm.. sebagian kecil, uuh,. sedikit kelebihan gue.
If you guys hate all my weaknesses, then don't you guys wanna know how much i hate myself? ;)
Apa ini menjawab pertanyaan gue,
apa kegunaan gue?
Ah ini cuma pikiran di sore hari nan panas,
sudah,
biarkan hilang.
Friday, February 24, 2012
(im)possibility
Hello blog. Been a while. Yep a while.
Ketidakmungkinan,
setiap kali gue dihajar dari segala sisi,
pipi dan rahang gue seperti dihabisi,
memar dan lebam itu kian menjadi-jadi,
tak ada bekas luka,
yang ada hanya darah beku yang terkesima.
Gue menjalani tuntutan,
untuk selalu berlari di jalan yang benar,
untuk tidak sedikitpun melakukan kesalahan,
jelas,
karena gue selalu menjadi yang diharapkan,
dan sayangnya,
gue selalu memberikan apa yang diidamkan.
Sekalinya gue gagal, atau oleng dan setengah pingsan,
ya karena tekanan untuk menjadi selalu bisa itu tidak gampang,
maka semua akan segera runtuh begitu saja.
Gue sering merasa menjadi pondasi,
memikul beban yang penuh berisi,
tahu apa rasanya seperti ini?
Digantungkan harapan,
diperas lebih lagi,
diberikan segala tuntunan,
harus begitu begini.
Gue mulai kehilangan rasa menikmati,
karena semua hal yang gue senangi mulai tidak lagi menyenangkan,
semua hal yang sebelumnya menggembirakan,
menjadi momok menakutkan.
Ketidakmungkinan,
gue cuma menjalankan tuntutan.
Friday, December 9, 2011
Blink-182 - Neighborhoods.
Neighborhoods. Sebuah penantian panjang dan melelahkan, 8 tahun kita bermimpi akan ada kelanjutan dari hangar-bingar album Self-Titled milik dewa, tuhan, berhala dan pahlawan bagi saya, dan setiap loser seumuran saya di sekolah, Blink-182.
Ya, meski sekarang kehadiran Blink-182 bukan hanya mewakili sekumpulan orang aneh dan loser di sekolah yang memakai celana pendek milik ayah mereka yang sedikit kedodoran dan berkaos kaki panjang serta bersepatu gelap dan lusuh, Blink-182 tetaplah Blink-182, segala hal dari mereka menyenangkan, meskipun begitu, kehadiran Blink-182 kini juga menyebalkan dengan munculnya ratusan merch, t-shirt dan hoodie mungkin sudah biasa, kini muncul gelang hingga cincin (ya Tuhan…).
Kembali ke Neighborhoods, yang merupakan album resmi pertama mereka setelah mengalami Indefinite Hiatus, yang bukan saja membuat Tom, Mark, Travis terpecah, namun juga fans mereka, sebagian kecil masih menangis menunggu di sudut kamar sembari mencaci maki di youtube atas semua proyek diluar Blink-182, baik dalam bendera +44 - dimana Mark dan Travis tetap bersikeras bahwa mereka tak ingin dandanan mereka dewasa meskipun lirik dan musik mengalami peningkatan yang lumayan baik.- dan tentu saja, disaat Tom mengenakan skinny jeans, bikers jacket, dan menjual sepatu sembari bercerita tentang mimpinya mengenai perdamaian dunia melalui Angels&Airwaves (AVA).
Sekedar intermezzo, saya sendiri menjadi barisan yang beranjak dewasa dan memuja AVA, -dan tetap menyukai +44- lalu mencoba menikmati tahun demi tahun tanpa album baru Blink-182.
Oke, cukup, kembali ke pembahasan inti.
Track Neighboorhoods dibuka dengan "Ghost On The Dancefloor" dimana Tom memaksimalkan perangkat yang dipelajarinya selama bermeditasi bersama AVA, dimana dia menyentuh sisi sound serba modern dan alienisasi dikawinkan dengan pukulan bergema serba rapat milik Travis. Lagu ini sendiri penuh kepedihan [It's like the universe has left me Without a place to go Without a hint of light To watch the movement glow And our song is slowly starting Your memory felt so real] dan menurut mereka, ini dipersembahkan untuk semua yang terlebih dahulu meninggalkan mereka, DJ AM, dan, menurut saya, tentu saja Jerry Finn.Track yang gelap namun catchy, salah satu lagu dengan kombinasi lirik dan musik terbaik yang ada di album ini.
"Natives" melanjutkan kegelapan dan meniupkan aroma kesuraman dengan lick gitar Delonge a la M&M's yang lebih modern dan ketukan Travis yang kita rindukan selama ini, ceria dan gelap seketika. Liriknya sendiri serba depresif, berpotensi membuat pendengarnya mencari obat penenang dan bunuh diri saat itu juga sembari menyayat nadi. Tom bernyanyi [I am the prodigal son, a shameful prodigy too] di bagian verse dan Mark memperparah tekanan dengan reff berbunyi [I'm just a bastard child, don't let it go to your head I'm just a waste of your time, maybe I'm better off dead] Entah novel atau koran pinggir jalan apa yang mereka baca, tapi ini begitu depresif dan gelap.
Track selanjutnya adalah "Up All Night" yang berisi riff gitar usang milik Tom yang sudah diperdengarkan saat sesi pembuatan album Self-Titled dan dipoles dengan sentuhan luar angkasa dan suara alien di kanan kiri. Departemen lirik mengalami peningkatan dengan cara bernyanyi sahut-menyahut khas band ini, ah, Tom dan Mark memang duet maut untuk saat seperti ini. Lagu yang bercerita tentang kenyataan dan pencarian arti hidup selama ini -yang merupakan sebuah pendewasaan - yang tiap line-nya diisi calon quote-quote cerdas dan berisi pedasnya kenyataan. Kecerdasan itu ditutup dengan pertanyaan tegas [Let me get this straight. Do you want me here? As I struggle through each and every year...] Banyak yang langsung membandingkan sound lagu ini dengan AVA, dan hal itu sangat lucu. Tom adalah punggawa dan otak utama dibalik AVA, -dia merasa musik dan sound seperti itulah yang disukainya kini - dan dia adalah bagian dari Blink-182, akan sangat wajar apabila ia memasukan unsur yang disukainya di apapun yang berkenaan dengan Blink-182 karena hal itu tidak terpisahkan. Ia tetap Tom, namun pendengar yang dewasa dan fans yang budiman seharusnya menyadari hal itu, Tom bukan lagi skateboarder culun dari pinggir California yang bercita-cita luhur menjadi lelucon di dunia musik. Dia beranjak dewasa dengan caranya sendiri, terima atau tidak.. Deal with it.
"After Midnight" adalah picisan. Lagu yang jelas-jelas merupakan kelanjutan dari "I Miss You"(Self-Titled) yang selalu jadi jawara di daftar mp3 penjual pulsa pinggir jalan, dan tentu saja, lagu wajib dan kebangsaan galau generasi saya. Lagu ini diawali oleh beat Travis yang menjemukan dan flat, lalu Tom menyanyikan curahan penderitaan hati pujangga gendut yang cinta mati kepada kekasihnya sepanjang verse [A bit of pain will help you suffer when you're hurt, for real Cause you're driving me crazy By your lips, the word's a robbery Do you grin inside? You're killing me] Lalu Mark merengek [We'll stagger home after midnight. Sleep arm in arm in the stairwell. We'll fall apart on the weekend.These nights go on and on and on] mengenai sebuah dua sisi yang saling berlawanan, suka dan duka di reff yang sangat menohok sisi hati kalian yang mulai berfikir untuk siap mati demi mencari belahan hati. Picisan tetap picisan, jauhkan diri kalian benda tajam selama mendengarkan lagu ini.
Banyak yang merasa ”Snake Charmer” tidak cocok dengan blink-182, dan saya tidak sependapat. Memang terdengar sedikit janggal, namun akuilah ini merupakan salah satu lagu dengan eksplorasi kreatif maksimal dan nada yang mudah menempel di kepala meskipun cenderung cheesy dengan hook juara mengisi sepanjang reff [That's how it was to all begin Cause good girls who like to sin Way back at the starting line Where Eve was on Adam's mind And he was the first to go In search of the great unknown And falling yet again Cause good girls, they like to sin] Entah selera saya yang aneh atau memang lagu ini punya racun khusus yang cuma menusuk di kepala saya. Entahlah.
Track “Heart’s All Gone” adalah penumpas rindu bagian kalian pecinta Blink-182 pada era mereka masih lebih sering menjual lelucon jorok ketimbang merchandise. Di lagu ini, kita akan mendegar Mark dengan cerdas melemparkan semua kekesalan dan meludahi kita dengan barisan kata-kata jenius. [Your smoking tongue is the end of us all. But you only care about Fame and fortune, Watching others tortured, Casting your reflection] dan Travis menjaga beat oldshool – yang meski sedikit menurun agresifitasnya, tetap mampu membuat kita bernostalgia – sepanjang lagu. Jangan risaukan mengenai interlude aneh dan sangat sederhana di awal lagu, ini saatnya moshing di atas meja belajar kalian.
Yeah, your heart's all gone!
“Wishing Well” kembali menurunkan tensi dan mendinginkan kepala kalian dengan barisan kata-kata bijak dari Tom yang mencoba menyuntukan aura positif ke dalam otak kalian yang sudah tertalu terkontaminasi bintang film porno. Lagu ini sederhana di departemen musik, namun keindahan alur lirik terukir sepanjang lagu yang bercerita tentang beratnya hidup [Been gone a long time I kinda lost my way, I can't find it] dan memberikan pencerahan di bagian reff [I reached for a shooting star, it burned a hole through my hand Made its way through my heart, had fun in the promised land]. Kalau boleh jujur, ini adalah salah satu masterpiece untuk penulisan liik oleh Tom di album ini.
“Kaleidoscope” dimulai dengan barisan prosa dari Mark a la +44 yang sulit dimengerti maknanya, ia menempatkan banyak kiasan semacam [Stop blocking the driveway with your car Put the butterfly in the bell jar] yang tentu saja bermakna ganda, lalu Tom serta-merta meneriakan kegelisahan-nya secara membabi buta [It's the first time that I worried Of a bad dream, of a journey On the highway, through the valley It's a long road through the night It's a long road] lagu ini akan menempatkan kita pada situasi penuh tanda tanya dan ketakutan dalam kegelapan persimpangan jalan kehidupan, sepertinya itu yang diiginkan Mark dan Tom untuk kita rasakan.
Oke, kalau boleh jujur, saya benci sekali dengan intro milik “This Is Home” yang dengan brutalnya menyatukan lick gitar standar milik Tom dengan sound string yang terdengar di kuping saya sangat murahan khas organ tunggal pinggir jalan. Liriknya sendiri tidak buruk, bahkan sebenarnya sangat baik, namun buat saya, sudah tidak lagi relevan Tom menyanyikan [We fuck and fight like vagabonds We dance like fucking animals] Jelas, ini bukan track favorit saya.
Apa yang ada dipikiran Mark saat mengikuti saran Tom untuk tetap menggunakan ”MH 4.18.2011” sebagai judul lagu? Jujur saja, ini judul yang bagus dan unik dan dilihat, namun sukar diucapkan. Mengingat lagu ini berpotensi menjadi lagu terbaik di album Neighborhoods. (Coba saja saat ditanya mendadak, ”Apa lagu favorit kalian di Neighbohoods?” kalian hanya akan menjawab “Emmhh.. MH, MH...MH apa tuh.. Emmhh... ” karena sulit mengingatnya.) Lagu ini mengingatkan saya akan intensitas milik ”Here’s Your Letter” (Self-Titled) namun versi lebih baik, dengan lirik reff yang memberikan sisi apatis Mark akan kehidupan [Hold on, the worst is yet to come Save your money for hired guns Hold strong when everything you loved is gone] dan ditutup dengan quote jenaka cerdas yang menampar kita semua… [stop living in the shadow of a helicopter…]
“Love Is Dangerous”! akan membawa anda sebuah atmosfir kegelapan dunia gemerlap luar angkasa yang penuh kegamangan dansa romansa. Tom sekali lagi berperan dalam keluarnya sound-sound aneh yang mengiringi lagu ini. Namun, nilai plus lagu ini adalah verse yang dinyanyikan Tom dan Mark secara bersamaan dan tumpang tindih, mengingatkan kita akan kegelapan ”Violence” (Self-Titled) dalam versi lebih dewasa. Diawali lirik [I have had it with this damn double vision My hands swollen, I can't keep holding on My hearts sinking and stuck in deadly rhythm] dan bisa ditebak, lagu ini mengalun dipenuhi pecahan hati yang menghilang di black hole dan memaksa kita mengerti, betapa bahayanya perasaan bernama Cinta, seperti saat Tom berteriak [Love, love is so dangerous!] dan Mark bergumam [Life's cruel so we all pretend to find]. Yak, cinta itu berbahaya!
Tenggak LSD, karena itu cara satu-satunya mengerti dan memahami lagu berbau experimental Mark berjudul ”Fighting The Gravity” yang seperti berputar-putar dalam balutan hipnotis level tinggi yang sukar dijelaskan arah dan bentuknya. Meski lagunya masih bernyanyi mengenai kegalauan [something swimming in my blood, somethings rotting in my brain I'm smothered from the flood, I can't recognize your face,
I need to leave so just drive,] yang jauh lebih mudah dicerna daripada musiknya. Bukan lagu yang jelek, namun jelas, tak akan bisa dinikmati dalam keadaan sadar. Benar kata Mark, this make no sense. :p
I need to leave so just drive,] yang jauh lebih mudah dicerna daripada musiknya. Bukan lagu yang jelek, namun jelas, tak akan bisa dinikmati dalam keadaan sadar. Benar kata Mark, this make no sense. :p
Lagu ringan menutup Neighborhoods, adalah ”Even If She Falls” yang mengingatkan kita akan era Take Off Your Pants and Jacket dimana Tom melakukan tembak langung dengan menyanyikan anthem baru bagi para pria-pria pecundang yang baru saja ditolak wanita yang dicintainya [When, the night will begin, The pain it won't end Even if she falls in loveBack, you wanna turn back Your heart will attack Even if she falls in love] dan ini mengakhiri penantian 8 tahun penuh darah dan peluh menunggu.
Neighborhoods memang diproyeksikan menjadi album tergelap, mengingat mereka mengalami begitu banyak hal, seperti perpecahan internal yang menyebabkan Tom tak saling bicara dengan Mark dan Travis bertahun-tahun –bahkan saling mengejek- lalu kecelakaan Travis yang berbuntut panjang, meninggalnya DJ AM, meninggalnya Jerry Finn, begitu banyak hal menyedihkan yang terjadi. Secara keseluruhan, Neighborhoods masih menggunakan resep yang mirip dengan Self Tittled yang menabrakan semua influence musik Tom, Mark dan Travis. Patut ditunggu, apakah rumus ini akan digunakan lagi untuk album-album Blink-182 selanjutnya?
But, like once Tom said in AVA, “Everything happens for a reason…”
Blink-182 is back. They’re really back. Dimulai dengan saling menelepon, muncul di Grammy Awards 2009, beberapa tur dadakan, dan kini, Neighborhoods. Enjoy!
Thursday, December 1, 2011
Angels & Airwaves - LOVE part 2. Petualangan Panjang Itu Akhirnya Berhenti Sementara.
Meninjau pergerakan bulan yang semakin tak beraturan dan cuaca yang semakin hari semakin tidak konsisten, namun sepertinya tidak mempengaruhi Delonge, Kennedy dan Watcher (dan tentu saja, Willard – yang memutuskan mengentikan petualangan setelah 5 tahun berjibaku meniru suara-suara dentuman para malaikat ) untuk menyelesaikan sebuah ambisi tanpa batas.
Lepas landas,
Setelah ekspektasi besar-besaran terhadap double album yang didengungkan – dan ditunda berkali-kali – kini, LOVE part 1 telah bertemu tulang rusuknya, LOVE part 2, dan tentu saja, semesta yang membangun pondasi kedua album tersebut, LOVE The Movie.
Review saya di album LOVE part 1 – album yang bisa diunduh gratis di setiap kesempatan – mungkin cenderung berlebihan dan menunjukan saya itu tak lebih dari maniak yang berwajah tampan di setiap kesempatan, namun, entahlah, Angels&Airwaves telah melakukan banyak hal pada saat-saat paling berat dan paling membahagiakan dalam hidup saya, wajar bila saya berlebihan.
Setelah dihajar dari berbagai sisi eksploitasi sound yang cenderung tumpang tindih, kadang menjemukan dan serba berat dalam LOVE part 1 yang penuh oleh kerumitan puisi Delonge yang cenderung dan berpotensi membuat otak kita terbebani oleh petualangan astronot yang hilang kontak dengan bumi dan tersesat di luar angkasa, kini berlanjut kepada sebuah petualangan lebih lunak dan masuk akal dalam LOVE part 2, departemen lirik yang jauh lebih ringan dari segi pemilihan kata, namun tetap mengingatkan kita akan pentingnya kewarasan otak untuk bersosialisasi dan mencintai kehidupan.
LOVE part 2 dimulai dengan ”Saturday Love”, banyak yang berfikir bahwa jalan cerita di lirik ini terlalu cheesy mengingat kemegahan intro yang begitu orgasmic dan seolah mengantar kita pada sebuah gerbang menuju dunia antah berantah yang megah namun dilapis lirik seakan-akan semua berakhir di klub malam penuh wanita menggoda di atas lantai dansa di hari sabtu yang ceria. Padahal, mereka tak menyelami bagaimana dillema romansa cinta yang tertulis rapih di verse rap a la Delonge yang – menurut saya – jauh lebih baik daripada ”The Flight of Apollo” (LOVE pt 1). Lagu ini menggambarkan bagaimana keresahan hati seseorang yang ingin sekali bercerita tentang segala hal yang ingin dia teriakan sepenuh hati kepada orang yang paling dicintainya, namun tak bisa dilakukannya, dan ia memendamnya dalam hati, terjebak dalam ketidakmampuannya. [I'm sorry but I can't tell you I feel like a pattern Of shapes that will never matter, a color that will never flatter...] Keresahan yang megah dan menusuk dalam juga bergema dalam ajakan untuk memahami ketidakpastian mimpi. [So I just like to daydream, 'cause dreams only make me happy. Will you come along my love? Will you come along here with me?]
”Surrender” adalah tipikal lagu irama senam Jantung Sehat yang sering dipraktekan ibu-ibu dekat rumah saya, sebuah pelecut semangat untuk tetap bertahan hidup, lagu ringan sahabat dari nomor-nomor kebanggaan para kaum yang masih optimis menjalani hidup peninggalan dari LOVE pt 1 seperti ”Hallucinations” dan ”Epic Holiday”, meskipun Delonge sepakat berkata bahwa lagu ini seharusnya dinikahkan dengan ”Some Origins of Fire” saat ia menggambarkan hari-hari kelam [When God falls fast asleep The kids still dance in city streets From the white house lawn to the middle east And all around I'm just saying that this time I feel it now] dan lagu ini bekerja dengan baik.
”Anxiety” adalah kepingan dari salah satu satelit Saturnus yang jatuh mendarat di Bumi, dan menghujam Good In Bed Music milik Delonge. Nomor indah yang penuh eksploitasi cara bernyanyi dan sound yang diaransemen jauh lebih baik dari lagu-lagu bertema cahaya laser milik mereka sebelumnya. Watcher dan Kennedy bekerja sama dengan apik dengan dentingan synth milik mereka masing-masing sementara Delonge berkhotbah untuk membakar gairah pagi dari umat manusia yang kecewa dari getirnya hidup dan beteriak lantang. Dimulai dengan lirik yang bisa dimasukan dalam kategori galau tingkat tinggi bagi kalian generasi Seven Eleven [Faster, I dream in speeds of ashes My heart it beats and crashes I'm running from the truth Cause it fucks with my mind..] Dan selanjutnya semakin penuh aroma kekecewaan dan kegelisahan yang disampaikan dalam perang laser dan percikan lampu yang membutakan mata dan mewakili kalian yang putus asa akan tekanan hidup di saat kita menyerah kepada hidup dan berteriak memohon [Don’t pressure us Anxiety, i’m just a passenger!] Entahlah, nomor ini begitu depresif sekaligus melegakan. Lengkap.
Intro halus mengawali lagu selanjutnya, sebuah balada berjudul ”My Heroine [It’s Not Over]” - yang terkesan kelanjutan dari “Breathe”(WDNTW) dan “Clever Love” (LOVE pt 1) - lirik manis, reff yang semakin dan terlalu manis dan berbau not-not milik “Start The Machine” (WDNTW), dan sebuah lagu berisi permintaan berlebihan [ She speaks a word to make me grin, Can i please have her... ] rengek Delonge. namun kejutan di bridge yang menyenangkan dan segar diawali roll drum dan akhirnya lebih menghentak, dan ah, saya pribadi suka sekali nada bergema yang digunakan Delonge di [It’s noot oveer, over, oveer..] di ujung bagian bridge dan ending yang klimaks dengan bombardir drum Willard. Ah Willard. Masih sedih kau tak lagi di band ini.
Petualangan berikutnya dimulai dengan suara-suara aneh yang –lucunya- menenangkan, perlahan mengalun “Moon As My Witness” yang kembali diisi kelembutan dan suara berbunga-bunga penuh rayuan maniak milik Delonge, dan lirik yang menjadi penghujung di hampir setiap paragraf berkata [Oh please, stay a while, God I love your smile..] dijamin akan membuat hati wanita yang sekeras planet Merkurius pun melunak dan segera mengajak anda bercinta di penghujung malam dingin di bawah jembatan San Fransisco. Akhir lagu ini sedikit mengantung, seperti melompat dari ketenangan rotasi Venus menuju kegelapan angkasa luar yang tak bertepi berisi suara transmisi dan denting string mencekam yang ternyata jembatan menuju ”Dry Your Eyes”, lagu dengan distorsi ringan dan ketukan a la ”Everything’s Magic” (WDNTW) – yang ternyata memang kedua lagu ini luar biasa mirip – dengan tema lirik penuh kemarahan tentang transmisi yang gagal, dan melampiaskan segala kesalahan pada keadaan dan ketidakmampuan berkomunikasi seakan menunjukan kefrustasian yang mendalam, sebuah imajinasi yang muncul apabila kalian sudah menonton LOVE The Movie, perasaan seperti itu tergambar jelas berkali-kali di film tersebut. Lick gitar dengan chord miring yang terkesan menjilat nakal di bagian verse adalah salah satu nilai tambah di lagu ini.
”The Revelator” adalah lagu dengan judul terbaik di album ini yang dimulai dengan sound bass yang unik milik Watcher dan intro yang – entah bagaimana - mengingatkan saya akan ”Snake Charmer” (Blink-182 | Neighborhood - 2011). Lagu ini punya bridge yang sangat baik dan catchy, [ It’s a little late in a little while can we forgot about it? With a little lake of a little fire, We’ll take the fun out of it] sangat menggelitik dan asyik untuk bergoyang bersama gaya dansa Delonge yang memalukan, namun reff-nya cenderung membosankan dan minim kreatifitas nada. Permasalahan klasik yang diwariskan sejak LOVE pt 1. Sesuatu yang wajar mengingat menulis untuk double album dengan 20 lagu dalam tempo sekitar 4 tahun tentu saja akan mengakibatkan hal semacam ini.
Alunan dansa robotnik luar angkasa mewarnai ”One Last Thing”, ,verse dengan nada bernyanyi yang cerdas yang seperti penyempurnaan dari lagu disko a la 80an, lirik yang bernyanyi tentang kehidupan nyata, Delonge menulis dari keadaan mengenaskan di pinggir jalan hingga istana megah yang dibagun dari peperangan yang diisi kritik mendalam pada negara yang dia cintai bernama Amerika [Out of love and we’ve just begun, livin’ large in America..], dia juga mempertanyaakan bagaimana kita bisa tidur tenang di tengah keresahan yang terjadi [ How does anybody sleep tonight? Out of mind but not out of sight..] spirit Delonge yang mengambil porsi nada yang lebih tinggi di Reff kedua dan seterusnya patut diberi kredit tambahan, menghentak dan membakar semangat. [But i found, one last thing to believe in!] Seperti diberikan pencerahan petuah sejenak oleh si gendut Delonge.
Intro gitar ”Inertia” adalah hal yang – secara pribadi - paling saya benci dari lagu ini, memang kombinasi chord yang miring-miring sering digunakan, namun tidak terdengar megah disini, padahal lirik keseluruhan sangat baik, dimulai dengan [You’re a liar, you wear gun makes you look bigger] dan lagu ini memang penuh sindiran kehidupan sosial yang umum terjadi dan kebencian yang ditorehkan di hati dan diwariskan kepada generasi kita. Kali ini Delonge sangat cerdas mengangkat isu-isu penuh muatan politis semacam ini. Nada yang yang diambil cenderung flat dan cara bernyanyi yang bernuansa apatis dan khidmat, namun di penghujung lagu lirik [We’re still standing.. And we’ve done this before, but we’re standing] berkumandang menunjukkan dia tidak menyerah melawan kemunafikan kehidupan dan percaya akan ada akhir dari kegilaan ini, lagu ini ditutup dengan petikan dialog dari LOVE The Movie.
Oldschool, itu yang terbesit di pikiran saya saat memasuki ”Behold A Pale Horse” - yang entah darimana Delonge bisa dapat judul sejelek ini untuk masuk ke album ini – diisi dengan tempo sedang dan chord-chord berpindah secara rapat a la band rock old shcool yang dibantu drum untuk menjadi semegah mungkin, sementara Delonge bercerita tentang hari kiamat yang disadur dari kitab Wahyu, dan yak, cara bernyanyi Delonge di reff lagu ini sedikit berbau idolanya Bono (U2).
Kennedy yang bertanggung jawab akan piano merdu dan manis yang menyebarkan obat bius berkualitas terbaik di lagu ”All That We Are”,sebuah penutup yang dibalut vokal dan lirik manis Delonge, dan diakhiri interlude panjang berisi raungan gitar yang – lagi-lagi cenderung oldschool – yang dengen segala keterbatasan saya dapat menyebut beraroma Pink Floyd, kasar, egois dan bergema memenuhi angkasa luar.
LOVE part 2 memang lebih sering mengemukakan cinta pada bentuk yang lebih sederhana dan terbayangkan oleh keterbatasan mata kita, meskipun bentuknya beragam, namun tetap saja bukan sebuah album berat, namun apabila diresapi, dan menyerap artinya, dan tentu saja menonton LOVE The Movie, maka kalian akan mudah mengerti seberapa pentingnya Delonge panjang lebar menjelaskan bahwa kesendirian itu menyesakkan, dan berkumpul bersama manusia-manusia yang kita cintai adalah segala-galanya. Petualangan dengan LOVE mungkin selesai disini, dengan jutaan pesan yang ingin ditinggalkan Delonge. Secara musik dan sound, kita mungkin kenyang dan hafal bagaimana bentuk Angels&Airwaves sejak era We Don’t Need To Whisper (WDNTW) hingga LOVE part 2 mencoba memotivasi kita dan menyisipkan berbagai makna untuk kita lebih mencintai sesama, mencintai sekitar kita, mencintai liingkungan dan udara yang kita hirup, mencintai segala bentuk kehidupan dan kemegahannya.
Petualangan menjelajahi antariksa untuk sementara selesai sampai disini, sudah saatnya kita kembali ke bumi dan menanam pohon.
Lepas landas,
Setelah ekspektasi besar-besaran terhadap double album yang didengungkan – dan ditunda berkali-kali – kini, LOVE part 1 telah bertemu tulang rusuknya, LOVE part 2, dan tentu saja, semesta yang membangun pondasi kedua album tersebut, LOVE The Movie.
Review saya di album LOVE part 1 – album yang bisa diunduh gratis di setiap kesempatan – mungkin cenderung berlebihan dan menunjukan saya itu tak lebih dari maniak yang berwajah tampan di setiap kesempatan, namun, entahlah, Angels&Airwaves telah melakukan banyak hal pada saat-saat paling berat dan paling membahagiakan dalam hidup saya, wajar bila saya berlebihan.
Setelah dihajar dari berbagai sisi eksploitasi sound yang cenderung tumpang tindih, kadang menjemukan dan serba berat dalam LOVE part 1 yang penuh oleh kerumitan puisi Delonge yang cenderung dan berpotensi membuat otak kita terbebani oleh petualangan astronot yang hilang kontak dengan bumi dan tersesat di luar angkasa, kini berlanjut kepada sebuah petualangan lebih lunak dan masuk akal dalam LOVE part 2, departemen lirik yang jauh lebih ringan dari segi pemilihan kata, namun tetap mengingatkan kita akan pentingnya kewarasan otak untuk bersosialisasi dan mencintai kehidupan.
LOVE part 2 dimulai dengan ”Saturday Love”, banyak yang berfikir bahwa jalan cerita di lirik ini terlalu cheesy mengingat kemegahan intro yang begitu orgasmic dan seolah mengantar kita pada sebuah gerbang menuju dunia antah berantah yang megah namun dilapis lirik seakan-akan semua berakhir di klub malam penuh wanita menggoda di atas lantai dansa di hari sabtu yang ceria. Padahal, mereka tak menyelami bagaimana dillema romansa cinta yang tertulis rapih di verse rap a la Delonge yang – menurut saya – jauh lebih baik daripada ”The Flight of Apollo” (LOVE pt 1). Lagu ini menggambarkan bagaimana keresahan hati seseorang yang ingin sekali bercerita tentang segala hal yang ingin dia teriakan sepenuh hati kepada orang yang paling dicintainya, namun tak bisa dilakukannya, dan ia memendamnya dalam hati, terjebak dalam ketidakmampuannya. [I'm sorry but I can't tell you I feel like a pattern Of shapes that will never matter, a color that will never flatter...] Keresahan yang megah dan menusuk dalam juga bergema dalam ajakan untuk memahami ketidakpastian mimpi. [So I just like to daydream, 'cause dreams only make me happy. Will you come along my love? Will you come along here with me?]
”Surrender” adalah tipikal lagu irama senam Jantung Sehat yang sering dipraktekan ibu-ibu dekat rumah saya, sebuah pelecut semangat untuk tetap bertahan hidup, lagu ringan sahabat dari nomor-nomor kebanggaan para kaum yang masih optimis menjalani hidup peninggalan dari LOVE pt 1 seperti ”Hallucinations” dan ”Epic Holiday”, meskipun Delonge sepakat berkata bahwa lagu ini seharusnya dinikahkan dengan ”Some Origins of Fire” saat ia menggambarkan hari-hari kelam [When God falls fast asleep The kids still dance in city streets From the white house lawn to the middle east And all around I'm just saying that this time I feel it now] dan lagu ini bekerja dengan baik.
”Anxiety” adalah kepingan dari salah satu satelit Saturnus yang jatuh mendarat di Bumi, dan menghujam Good In Bed Music milik Delonge. Nomor indah yang penuh eksploitasi cara bernyanyi dan sound yang diaransemen jauh lebih baik dari lagu-lagu bertema cahaya laser milik mereka sebelumnya. Watcher dan Kennedy bekerja sama dengan apik dengan dentingan synth milik mereka masing-masing sementara Delonge berkhotbah untuk membakar gairah pagi dari umat manusia yang kecewa dari getirnya hidup dan beteriak lantang. Dimulai dengan lirik yang bisa dimasukan dalam kategori galau tingkat tinggi bagi kalian generasi Seven Eleven [Faster, I dream in speeds of ashes My heart it beats and crashes I'm running from the truth Cause it fucks with my mind..] Dan selanjutnya semakin penuh aroma kekecewaan dan kegelisahan yang disampaikan dalam perang laser dan percikan lampu yang membutakan mata dan mewakili kalian yang putus asa akan tekanan hidup di saat kita menyerah kepada hidup dan berteriak memohon [Don’t pressure us Anxiety, i’m just a passenger!] Entahlah, nomor ini begitu depresif sekaligus melegakan. Lengkap.
Intro halus mengawali lagu selanjutnya, sebuah balada berjudul ”My Heroine [It’s Not Over]” - yang terkesan kelanjutan dari “Breathe”(WDNTW) dan “Clever Love” (LOVE pt 1) - lirik manis, reff yang semakin dan terlalu manis dan berbau not-not milik “Start The Machine” (WDNTW), dan sebuah lagu berisi permintaan berlebihan [ She speaks a word to make me grin, Can i please have her... ] rengek Delonge. namun kejutan di bridge yang menyenangkan dan segar diawali roll drum dan akhirnya lebih menghentak, dan ah, saya pribadi suka sekali nada bergema yang digunakan Delonge di [It’s noot oveer, over, oveer..] di ujung bagian bridge dan ending yang klimaks dengan bombardir drum Willard. Ah Willard. Masih sedih kau tak lagi di band ini.
Petualangan berikutnya dimulai dengan suara-suara aneh yang –lucunya- menenangkan, perlahan mengalun “Moon As My Witness” yang kembali diisi kelembutan dan suara berbunga-bunga penuh rayuan maniak milik Delonge, dan lirik yang menjadi penghujung di hampir setiap paragraf berkata [Oh please, stay a while, God I love your smile..] dijamin akan membuat hati wanita yang sekeras planet Merkurius pun melunak dan segera mengajak anda bercinta di penghujung malam dingin di bawah jembatan San Fransisco. Akhir lagu ini sedikit mengantung, seperti melompat dari ketenangan rotasi Venus menuju kegelapan angkasa luar yang tak bertepi berisi suara transmisi dan denting string mencekam yang ternyata jembatan menuju ”Dry Your Eyes”, lagu dengan distorsi ringan dan ketukan a la ”Everything’s Magic” (WDNTW) – yang ternyata memang kedua lagu ini luar biasa mirip – dengan tema lirik penuh kemarahan tentang transmisi yang gagal, dan melampiaskan segala kesalahan pada keadaan dan ketidakmampuan berkomunikasi seakan menunjukan kefrustasian yang mendalam, sebuah imajinasi yang muncul apabila kalian sudah menonton LOVE The Movie, perasaan seperti itu tergambar jelas berkali-kali di film tersebut. Lick gitar dengan chord miring yang terkesan menjilat nakal di bagian verse adalah salah satu nilai tambah di lagu ini.
”The Revelator” adalah lagu dengan judul terbaik di album ini yang dimulai dengan sound bass yang unik milik Watcher dan intro yang – entah bagaimana - mengingatkan saya akan ”Snake Charmer” (Blink-182 | Neighborhood - 2011). Lagu ini punya bridge yang sangat baik dan catchy, [ It’s a little late in a little while can we forgot about it? With a little lake of a little fire, We’ll take the fun out of it] sangat menggelitik dan asyik untuk bergoyang bersama gaya dansa Delonge yang memalukan, namun reff-nya cenderung membosankan dan minim kreatifitas nada. Permasalahan klasik yang diwariskan sejak LOVE pt 1. Sesuatu yang wajar mengingat menulis untuk double album dengan 20 lagu dalam tempo sekitar 4 tahun tentu saja akan mengakibatkan hal semacam ini.
Alunan dansa robotnik luar angkasa mewarnai ”One Last Thing”, ,verse dengan nada bernyanyi yang cerdas yang seperti penyempurnaan dari lagu disko a la 80an, lirik yang bernyanyi tentang kehidupan nyata, Delonge menulis dari keadaan mengenaskan di pinggir jalan hingga istana megah yang dibagun dari peperangan yang diisi kritik mendalam pada negara yang dia cintai bernama Amerika [Out of love and we’ve just begun, livin’ large in America..], dia juga mempertanyaakan bagaimana kita bisa tidur tenang di tengah keresahan yang terjadi [ How does anybody sleep tonight? Out of mind but not out of sight..] spirit Delonge yang mengambil porsi nada yang lebih tinggi di Reff kedua dan seterusnya patut diberi kredit tambahan, menghentak dan membakar semangat. [But i found, one last thing to believe in!] Seperti diberikan pencerahan petuah sejenak oleh si gendut Delonge.
Intro gitar ”Inertia” adalah hal yang – secara pribadi - paling saya benci dari lagu ini, memang kombinasi chord yang miring-miring sering digunakan, namun tidak terdengar megah disini, padahal lirik keseluruhan sangat baik, dimulai dengan [You’re a liar, you wear gun makes you look bigger] dan lagu ini memang penuh sindiran kehidupan sosial yang umum terjadi dan kebencian yang ditorehkan di hati dan diwariskan kepada generasi kita. Kali ini Delonge sangat cerdas mengangkat isu-isu penuh muatan politis semacam ini. Nada yang yang diambil cenderung flat dan cara bernyanyi yang bernuansa apatis dan khidmat, namun di penghujung lagu lirik [We’re still standing.. And we’ve done this before, but we’re standing] berkumandang menunjukkan dia tidak menyerah melawan kemunafikan kehidupan dan percaya akan ada akhir dari kegilaan ini, lagu ini ditutup dengan petikan dialog dari LOVE The Movie.
Oldschool, itu yang terbesit di pikiran saya saat memasuki ”Behold A Pale Horse” - yang entah darimana Delonge bisa dapat judul sejelek ini untuk masuk ke album ini – diisi dengan tempo sedang dan chord-chord berpindah secara rapat a la band rock old shcool yang dibantu drum untuk menjadi semegah mungkin, sementara Delonge bercerita tentang hari kiamat yang disadur dari kitab Wahyu, dan yak, cara bernyanyi Delonge di reff lagu ini sedikit berbau idolanya Bono (U2).
Kennedy yang bertanggung jawab akan piano merdu dan manis yang menyebarkan obat bius berkualitas terbaik di lagu ”All That We Are”,sebuah penutup yang dibalut vokal dan lirik manis Delonge, dan diakhiri interlude panjang berisi raungan gitar yang – lagi-lagi cenderung oldschool – yang dengen segala keterbatasan saya dapat menyebut beraroma Pink Floyd, kasar, egois dan bergema memenuhi angkasa luar.
LOVE part 2 memang lebih sering mengemukakan cinta pada bentuk yang lebih sederhana dan terbayangkan oleh keterbatasan mata kita, meskipun bentuknya beragam, namun tetap saja bukan sebuah album berat, namun apabila diresapi, dan menyerap artinya, dan tentu saja menonton LOVE The Movie, maka kalian akan mudah mengerti seberapa pentingnya Delonge panjang lebar menjelaskan bahwa kesendirian itu menyesakkan, dan berkumpul bersama manusia-manusia yang kita cintai adalah segala-galanya. Petualangan dengan LOVE mungkin selesai disini, dengan jutaan pesan yang ingin ditinggalkan Delonge. Secara musik dan sound, kita mungkin kenyang dan hafal bagaimana bentuk Angels&Airwaves sejak era We Don’t Need To Whisper (WDNTW) hingga LOVE part 2 mencoba memotivasi kita dan menyisipkan berbagai makna untuk kita lebih mencintai sesama, mencintai sekitar kita, mencintai liingkungan dan udara yang kita hirup, mencintai segala bentuk kehidupan dan kemegahannya.
Petualangan menjelajahi antariksa untuk sementara selesai sampai disini, sudah saatnya kita kembali ke bumi dan menanam pohon.
Subscribe to:
Posts (Atom)