Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Tuesday, November 3, 2009

Semua Hal yang Terjadi,Memiliki Alasan...

Terlalu banyak prosa dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya,
tak ada maksud menjadi lebih bijaksana,
ataupun merasa tua,
saya hanya sedang kehilangan sentuhan menulis lagu,
dan merasa nyaman dengan menulis sesuatu yang panjang,
dan dipanjang-panjangkan,
dan melebih-lebihkan sesuatu,
dengan saat yang bersamaan,
menyadarkan diri bahwa saya bukan siapa-siapa di dunia ini.
Oke,saya mulai terdengar menjadi sok idealis,
dan memiliki pandangan hidup yang jelas,
padahal,
saya sendiri belum tahu,
saya mau jadi apa.
Atau saya tahu apa yang saya mau,
namun terlalu takut membuatnya menjadi nyata?

Ini adalah bulan yang sebenarnya membuat saya jadi serba salah,
bingung,
takut,yap,luar biasa takut.
Saya memulai fase hidup sebagai pengangguran.
Bukan,saya bukan takut bekerja,
tapi saya takut memilih pekerjaan yang sebenarnya bukan mau saya,
tapi harus saya ambil demi hidup.
Oh Tuhan,
saya tak ingin hanya bertahan hidup,
saya ingin memperbaiki hidup.

Sebenarnya,saya tak pernah keberatan,
dengan satu atau dua jenis pekerjaan,
tapi... Bukankah kita diperbolehkan memilih?

Well,jawabannya selalu dilontarkan Mami saya setiap hari,
"Setiap hari berharga,jangan buang-buang waktu.."

Saya seperti anak bodoh,
bagai pungguk merindukan bulan (wekk,jadul bener idiom gw.. Hahahaha)

Saya menunggu waktu yang tepat,
dan jenis pekerjaan yang tepat.
Klise,
apalagi kenyataannya,
saya dihimpit masalah ekonomi,
atau istilah busuknya,
bokek berat.

Akh,ada yang bilang,
nikmati masa-masa seperti ini,
manjakan diri sendiri,
seharusnya mereka ngerti,
betapa bosennya makan indomie setiap hari!

Tak ada salahnya bermimpi,
meski ada yang bilang,
mimpi tanpa ambisi,
sama saja mati.

Siapa yang tak ingin menjadi kaya?
Memiliki uang berjuta-juta?

Tapi jika belum saatnya,
kerja keraspun sia-sia bukan?

saya menulis dengan seyum,
tapi mata saya berkaca-kaca,
ketakutan ini terlalu dalam,
bagaimana jika kelahiran saya tak berguna?
Atau,
saya memang tak bisa apa-apa?
Ini sama saja merendahkan kebesaran Tuhan,
tapi,
bisa kan kalian lihat dari bagian lain persepktif?

Mungkin,
saya hanya pemimpi yang depresi.

Mungkinkah meraih mimpi tanpa kerja keras?
Tanpa harus berusaha?

Saya hanya butuh lebih banyak waktu beristirahat,
sedikit meregangkan otak,
tapi sepertinya sudah terlambat.

Ini waktunya bangun dari tempat tidur,
dan mengejar mimpi.

Dengan otak lusuh,dan hati yang ketakutan,
ada yang tahu dimana semangat dan motivasi saat dibutuhkan?

Sunday, November 1, 2009

November,dan hujan tak turun seperti biasanya...

Rumah yang kosong,
jendela berembun,
mataku terpejam.

Tak sanggup kulihat,
dan kututup rapat,
kamarku yang hampa.

Aku berada,
di bagian hidup,
dimana sahabat tak ada,
Aku berada,
di bagian hidup,
disaat teman tak berguna.

Saturday, October 31, 2009

Siapakah Kita, Manusia?


Saya menulis di samping jendela,
ditemani deburan air dari langit yang kita sebut hujan,
memanggil setiap detik masa kelam,
dan membiarkan semua hilang saat nanti hujan reda.

Apa itu masa depan?

Bukankah kita hanya debu?

Mengapa kita memimpikan emas?

Bahkan kotoran anjing sepertinya lebih baik dari debu.

Siapa kita? Sempurna?
Apa yang kalian cari?
Bukankah satu bencana alam,
dapat melenyapkan kita?
Tak ada hal yang semudah membalikan telapak tangan,
kecuali,
kematian.

Mengapa kita suka sekali berbicara,
tentang hal yang tak perlu,
bahkan cenderung,
merubah kata menjadi peluru,
membunuh,
meelalui lidah,
dan bibir penuh nafsu,
nafsu membunuh.

Apa yang kita cari?
Kebenaran?
Bukankah kalian juga pendosa?
Bukankah tangan kalian juga berlumur darah?

Mengapa kita,
saling menghakimi?
Memilah mana yang baik mana yang benar,
maukah kalian,
dipilah dari lengan kalian,
saat lengan kalian melakukan kelaliman?
Munafik.

Siapa kalian?
Menghakimi.
Tidak ada yang lebih baik,
kita tak berbeda dengan pelacur,
pencuri,
dan pembunuh.

Bukankah seharusnya,
kita tidak membunuh,tapi juga memeluk pembunuh itu.

Masih ingin berbicara soal agama?

Oh Tuhan,
Anda pasti bercanda saat menciptakan manusia,
dengan otak yang luar biasa,
hanya digunakan untuk saling menghina?

Siapakah kita manusia?
Kematian akan membuat kalian,
hanya tinggal nama.

Saturday, October 24, 2009

L O V E

No other word to say,
LOVE,
is it a mistake?
because,
there's a lil bit regret on your mind,
well,mine too..

do we really need this?
Because maybe,
we're just in LOVE,
or might i say,
in a real LOVE...

i LOVE you,
no other phrase to say,
i LOVE you...

Wednesday, October 14, 2009

14.10.2009




October fourteenth. 

Nothing should be special, 
today will only like October fourteenth as ever. 
Magic. 
There's no better word to say, 
given the fact we are different. 

But who are we human? 

We ran, and fell, 
easy to like, easy to regret? 

For what this long run, 
if we will have each other? 

For what has been regretted, 
if we are going to be like this? 

 October fourteenth. 

Nothing should be special, 
today will only like October fourteenth as ever. 
Magic. 
There's no better word to say, 
considering we really did not differ. 

Who are we human? 

Seeking and loss, 
that survive only to die? 

May we no longer find each other, 
because we are met 

May we stay until we die. 

Writing the hope of every human being is happiness, 
and the fact only a matter of time. 

To Dinda Verona, 
for each sweat when confronted with the sun, 
for each of the inhalation of dust while exploring the way that never deserted. 
I love you,
in every single day,hour,minute,or second,
i meant it.

Sunday, October 11, 2009

Bertahan,Percaya....

Berdirilah di tengah rumahmu,
lihatlah sekeliling,
tak perduli bagaimana ukurannya,
kecil,besar,
pelajari kemegahannya, nikmati kesempitannya,
tak perduli bagaimana keadaannya,
kotor,bersih,
hirup debunya,rasakan wanginya.

Pernahkah kau bayangkan kehilangannya?
Meskipun kau tak pernah tau cara mendapatkannya..

Mensyukuri membuat kita merasa kecil dan tak berguna.

Begitulah hidup,
semua yang kita dapatkan adalah sia-sia,
jerit tangis dan keringat darah,
adalah kamuflase.

Kita hidup untuk bersyukur.

Karena,
percayalah,
apa yang kau dapat,
bukanlah jerih payahmu,
apa yang kau makan,
bukanlah hasil tanahmu.

Kita hanyalah debu tanah,
satu kepastian,
kita akan kembali menjadi debu tanah.

Bersyukurlah untuk setiap hasil,
dan jangan pernah berkata,
itu hasil jerih payahmu.

Karena, hasil yang kau terima,
adalah hasil kau bertahan,dan percaya.

Saturday, October 10, 2009

Agresifitas Mimpi

Waktu adalah satuan hitung. Membatasi ruang gerak, membuat nafas terukur angka.
Apa yang kita cari? Sebuah pilihan?
Bagaimana bila kita tak lagi menemukan pilihan?
Atau, pilihan kita hanya hidup atau mati?
Mana yang kita pilih?

Di awal tahun perkuliahan saya,
salah satu teman terbaik saya pernah mengatakan,
seberat-beratnya hidup saya,
saya selalu memiliki sebuah pilihan,
saya tak harus menimba air untuk mandi,
tak perlu berkeringat darah untuk makan sepiring nasi,
itu yang membuat saya lebih mudah berkata "tidak" pada sebuah pilihan.
Lalu bagaimana bila saya tak lagi menemukan pilihan?
Bagaimana jika saya harus berjalan puluhan kilometer untuk menimba air hanya untuk mandi?
Bagaimana jika saya harus mengemis hanya untuk mengais rejeki?
Semudah itukah saya akan berkata "tidak"?

Waktu merubah pribadi, bukan karakter.
Kita dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik,
dengan karakter yang sama sejak lahir.

Di tahun-tahun berikutnya perkuliahan,
saya memperbaiki pribadi,
perkataan teman saya sepertinya terlalu banyak mempengaruhi hati,
afeksi,
menusuk hingga paru-paru saya berhenti,
tak lagi bernafas.
Saya tak punya pilihan,
atau kata lainnya,
saya tak lagi memberikan diri saya pilihan.
Tak ada baik dan buruk,
yang ada hanyalah kapan dan bagaimana.

Saya melihat segalanya dari perspektif lain,
saya melihat hidup saya dari mata ibu saya,
bagaimana dia bertahan hidup,
sembari menghabiskan waktu hidupnya dengan mempercayai saya,
saya melihat hidup dari mata ayah saya,
bagaimana kesempurnaan dan kemuliaan keringat,
menjadi sesuatu yang sia-sia di mata dunia,
menjadikan dia produk manusia dengan daya kerja robot perfeksionis yang luar biasa.

Mereka gila.
Luar biasa gila.

Kedua orang tua saya adalah alasan,
adalah pilihan,

alasan saya tak memberikan diri saya satupun pilihan.

saya harus menyelesaikan sebuah rangkaian pertanggung jawaban,
kepercayaan yang tak mungkin terbayar.

Dan inilah saya,
dengan miliaran kesalahan,
triliunan kekurangan,
berdiri di sini,
penuh bekas luka dan goresan darah,
lutut yang gemetar dan lemah,
tangan yang gontai,
memeluk kedua orang tua saya,
sembari berdoa,

"Sambut saya dalam agresifitas mimpi,
mustahil untuk manusia biasa tanpa berdoa,
saya hanya menyelesaikan sebuah proses awal hidup yang luar biasa,
terima kasih hanyalah dua kata,
namun kaya makna..."


Waktu adalah proses.
Jenjang kehidupan yang terbagi dalam fase-fase yang diukur angka.
Angkat gelasmu kawan,
bersulanglah untuk hari menuju kedewasaan,
dan agresifitas mimpi.


10 Oktober 2009,
beberapa hari setelah saya menyelesaikan kuliah saya,
skripsi,sidang dan revisi,
terima kasih atas proses penyempurnaan diri.