Saya menulis di samping jendela,
ditemani deburan air dari langit yang kita sebut hujan,
memanggil setiap detik masa kelam,
dan membiarkan semua hilang saat nanti hujan reda.
Apa itu masa depan?
Bukankah kita hanya debu?
Mengapa kita memimpikan emas?
Bahkan kotoran anjing sepertinya lebih baik dari debu.
Siapa kita? Sempurna?
Apa yang kalian cari?
Bukankah satu bencana alam,
dapat melenyapkan kita?
Tak ada hal yang semudah membalikan telapak tangan,
kecuali,
kematian.
Mengapa kita suka sekali berbicara,
tentang hal yang tak perlu,
bahkan cenderung,
merubah kata menjadi peluru,
membunuh,
meelalui lidah,
dan bibir penuh nafsu,
nafsu membunuh.
Apa yang kita cari?
Kebenaran?
Bukankah kalian juga pendosa?
Bukankah tangan kalian juga berlumur darah?
Mengapa kita,
saling menghakimi?
Memilah mana yang baik mana yang benar,
maukah kalian,
dipilah dari lengan kalian,
saat lengan kalian melakukan kelaliman?
Munafik.
Siapa kalian?
Menghakimi.
Tidak ada yang lebih baik,
kita tak berbeda dengan pelacur,
pencuri,
dan pembunuh.
Bukankah seharusnya,
kita tidak membunuh,tapi juga memeluk pembunuh itu.
Masih ingin berbicara soal agama?
Oh Tuhan,
Anda pasti bercanda saat menciptakan manusia,
dengan otak yang luar biasa,
hanya digunakan untuk saling menghina?
Siapakah kita manusia?
Kematian akan membuat kalian,
hanya tinggal nama.
No comments:
Post a Comment