Apa yang kita cari? Sebuah pilihan?
Bagaimana bila kita tak lagi menemukan pilihan?
Atau, pilihan kita hanya hidup atau mati?
Mana yang kita pilih?
Di awal tahun perkuliahan saya,
salah satu teman terbaik saya pernah mengatakan,
seberat-beratnya hidup saya,
saya selalu memiliki sebuah pilihan,
saya tak harus menimba air untuk mandi,
tak perlu berkeringat darah untuk makan sepiring nasi,
itu yang membuat saya lebih mudah berkata "tidak" pada sebuah pilihan.
Lalu bagaimana bila saya tak lagi menemukan pilihan?
Bagaimana jika saya harus berjalan puluhan kilometer untuk menimba air hanya untuk mandi?
Bagaimana jika saya harus mengemis hanya untuk mengais rejeki?
Semudah itukah saya akan berkata "tidak"?
Waktu merubah pribadi, bukan karakter.
Kita dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik,
dengan karakter yang sama sejak lahir.
Di tahun-tahun berikutnya perkuliahan,
saya memperbaiki pribadi,
perkataan teman saya sepertinya terlalu banyak mempengaruhi hati,
afeksi,
menusuk hingga paru-paru saya berhenti,
tak lagi bernafas.
Saya tak punya pilihan,
atau kata lainnya,
saya tak lagi memberikan diri saya pilihan.
Tak ada baik dan buruk,
yang ada hanyalah kapan dan bagaimana.
Saya melihat segalanya dari perspektif lain,
saya melihat hidup saya dari mata ibu saya,
bagaimana dia bertahan hidup,
sembari menghabiskan waktu hidupnya dengan mempercayai saya,
saya melihat hidup dari mata ayah saya,
bagaimana kesempurnaan dan kemuliaan keringat,
menjadi sesuatu yang sia-sia di mata dunia,
menjadikan dia produk manusia dengan daya kerja robot perfeksionis yang luar biasa.
Mereka gila.
Luar biasa gila.
Kedua orang tua saya adalah alasan,
adalah pilihan,
alasan saya tak memberikan diri saya satupun pilihan.
saya harus menyelesaikan sebuah rangkaian pertanggung jawaban,
kepercayaan yang tak mungkin terbayar.
Dan inilah saya,
dengan miliaran kesalahan,
triliunan kekurangan,
berdiri di sini,
penuh bekas luka dan goresan darah,
lutut yang gemetar dan lemah,
tangan yang gontai,
memeluk kedua orang tua saya,
sembari berdoa,
"Sambut saya dalam agresifitas mimpi,
mustahil untuk manusia biasa tanpa berdoa,
saya hanya menyelesaikan sebuah proses awal hidup yang luar biasa,
terima kasih hanyalah dua kata,
namun kaya makna..."
Waktu adalah proses.
Jenjang kehidupan yang terbagi dalam fase-fase yang diukur angka.
Angkat gelasmu kawan,
bersulanglah untuk hari menuju kedewasaan,
dan agresifitas mimpi.
10 Oktober 2009,
beberapa hari setelah saya menyelesaikan kuliah saya,
skripsi,sidang dan revisi,
terima kasih atas proses penyempurnaan diri.
No comments:
Post a Comment