Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Wednesday, November 25, 2009

Musik : Magis

Musim hujan selalu berjalan abnormal,
saya tau,pasti kalian semua mencintai beberapa hari terakhir ini,
saya pun begitu,
saya suka hujan!

Tapi,
saya tetap bisa berusaha rileks,
seraya menyeruput teh manis favorit saya,
-merk teh favorit saya adalah PRENDJAK-,
dan memandangi komputer,
oke,saatnya nge-blog!

Saya sering membahas banyak hal,
musik favorit,
band favorit,
lirik favorit,
tapi,
saya tak pernah mendefinisikan apakah arti musik,
bagi diri saya.

Apa itu musik?
Sekumpulan nada-nada?
Oh saya tak berbakat dalam mendefinisikan sesuatu,
secara struktural,
boleh saya menjelaskan panjang lebar dengan kata-kata saya sendiri?
Saya bersumpah ini akan menjadi sampah.

Musik,
buat saya,
adalah misteri. titik.

Tidak,saya bercanda,
saya bukan profesor yang mendefinisikan sesuatu sesederhana mungkin.

Musik,itu magis.
Tak terdefinisi, menurut saya,
musik adalah hal magis,
salah satu hal termagis di dunia.
Lebay?

Begini,
saya suka menyanyi sejak kecil,
bahkan saya hafal lagu-lagu old school kesukaan ibu saya,
tapi saya belum mengerti apa-apa soal musik,
apalagi lagu,
saya hanya suka menyanyi.
Magis.
Bahkan saya ga mengerti lagu itu apa,
saya hanya mengikuti nada,
begitu magis.

Ga seru yah?
Hahahaha.


Oke,saya serius sekarang.
Begini,
kenapa saya bilang musik itu magis.

Musik,
sekarang ini, buat saya,
lebih dari sekedar nada-nada pengisi keseharian.
Musik,mulai menjadi identitas yang ingin saya pilih,
cenderung menjadi ideologi,
gaya hidup,
bahkan buat sebagian orang,
agama.

Magis.

Musik menjalar,
mengalir dalam darah,
menggerakan sayraf-syaraf otak yang mati suri,
bahkan menghidupkan kembali sel darah.

Saya ingat,idola pertama saya bukanlah musisi-musisi besar,
bukan Led Zeppelin, bukan Black Sabbath,
bukan Nirvana,
saya malah kepincut Hanson,
hahaha.
Bahkan saya die hard fans Hanson,
dan hafal semua lagu-lagunya.
Lebih dari itu, saya mengumpulkan kliping-kliping soal Hanson,
berencana menggondrongkan rambut seperti Zac (drummer Hanson),
memakai baju seperti para personil hanson,
memakai kalung tali sepatu,
memakai gelang,
dan kaos lengan pendek yg di dobel lengan panjang.
Hahahaha.
Hanson merubah ideologi dan cara saya berpikir,
lirik-lirik Inggris nya satu persatu saya artikan,
tidak ada yang dalem atau gimana,
tapi identitas mereka sebagai anak baik-baik,
sayang keluarga,
menjadikan saya menjadi mereka.
Hahaha.
Itu jaman SD.

SMP,tadinya saya masuk SMP negeri favorit,
setelah terlibat kasus tidak penting (saya dituduh jadi pencuri,
dan dipermalukan di kelas),
saya pindah sekolah,
SMP negeri yang lebih dekat rumah,
dengan rasa minder luar biasa,
dan tanpa rasa percaya diri,
saya menjadi nerd,
total fucking nerd,
and definitely a loser.

Lalu, lagu apa yang didengarkan loser?
Tentu saja, punk.

Punk menjadi pelarian buat saya,
mulai mencuri-curi dengar lagu-lagu NOFX,
MXPX,
dan yak,
loser mana yang tidak mendengarkan BLINK 182?

Bukannya mengesampingkan greenday sebagai punk hero,
tapi lagu-lagu Mark, Tom, dan Travis,
lebih mengena di hati saya.
Mulailah saya menjadi pemberontak bodoh dengan celana kedodoran,
Entah saya yang memang terlalu berlebihan atau apa,
tapi teman-teman SMP saya memang tak terlalu suka punk,
mereka lebih doyan hip-hop,
atau jedag-jedug sekalian,
(SMP gw emang aneh,terletak di kampung,
tapi doyan nya lagu-lagu RnB,Hip Hop.. hahaha)

Oke,back to music,
hal magis kembali terjadi.
saya tumbuh dengan agresifitas tinggi,
dalam hal meyakinkan diri.

Dalam kebrutalan musik punk,
saya menemukan jawaban.

Saya tahu saya itu pecundang,
dan hidup itu sampah,
tapi saya menemukan semangat,
untuk bertahan hidup dengan cara saya sendiri.

SMA adalah masa transisi,
dimana kedewasaan bertemu dengan idealisme,
dan saya membuka diri kepada kerapuhan-kerapuhan dini,
saya mulai mendengarkan apa yang disebut dengan musik keras,
dan emosi tak terbatas,
sehingga yang saya dengar hampir mirip teriakan,
lebih menyerupai tensi dari kendaraan bermotor yang menabrak orang yang hendak menyeberang jalan yang sepi.

Dan ternyata itu bukan kenyamanan yang saya cari,
tapi lebih menyerupai keadaan untuk lagi-lagi diterima teman.


Dan it's not punk at all.

Awal perkuliahan yang unik,

Saya pun kembali ke track dasar,
dimana kemegahan dan kemapanan hidup bukanlah hal utama,
tapi menjadi diri sendiri adalah jawaban dari segala pertanyaan.

Setelah menyerahkan jiwa kepada alkohol beberapa waktu,
saya memutuskan berhenti,
setelah sebelumnya bersumpah tak akan menindik dan merajam tubuh dengan tatto,
saya kembali menuju jalan yang saya anggap benar.

It's Straight Edge,
Bagaimana kefanatikan terhadap sebuah aliran,
membentuk saya,
menjadi manusia tanpa asap rokok,cairan mengandung alkohol,
dan tanpa ketamakan akan pesta seks.

Well,untuk hal yang terakhir,
saya bukan menolak seks,
tapi untuk melakukannya dengan sembarangan,
saya akan menolaknya,
seks hanya akan menyenangkan untuk dilakukan dengan orang yang spesial,
dengan letupan perasaan,
dan agresifitas nafsu tanpa kontaminasi alkohol..

Music,
making me different,
making me better.

Music,is total fucking magic!

No comments: